1) Identitas sosial dari penutur: dapat diketahui dari pertanyaan apa dan siapa penutur, dan bagaimana hubungannya dengan lawan tuturnya.

2) Identitas sosial dari pendengar dalam proses komunikasi: akan mempengaruhi pilihan kode dalam bertutur.

3) Lingkungan sosial tempat peristiwa tutur terjadi: dapat mempengaruhi pilihan kode dan gaya dalam bertutur. Misal: di perpustakaan, di lapangan, di ruang kuliah, dll.

4) Analisis diakronik dan sinkronik dari dialek-dialek sosial: berupa deskripsi pola-pola dialek-dialek sosial itu, baik yang berlaku pada masa tertentu atau pada masa yang tidak terbatas. Dialek sosial digunakan para penutur sehubungan dengan kedudukan mereka sebagai anggota kelas-kelas sosial tertentu di dalam masyarakat.

5) Penilaian sosial yang berbeda oleh penutur terhadap bentuk-bentuk perilaku ujaran: maksudnya, setiap penutur tentunya mempunyai kelas sosial tertentu di dalam masyarakat. Therefore, berdasarkan kelas sosialnya itu, dia mempunyai penilaian tersendiri, yang tentunya sama, atau jika berbeda, tidak akan terlalu jauh dari kelas sosialnya, terhadap bentuk-bentuk perilaku ujaran yang berlangsung.

6) Tingkat variasi atau ragam lingustik: maksudnya, bahwa sehubungan dengan heterogennya anggota suatu masyarakat tutur, adanya berbagai fungsi sosial dan politik bahasa, serta adanya tingkatan kesempurnaan kode, maka alat komunikasi manusia yang disebut bahasa itu menjadi sangat bervariasi. Setiap variasi, entah namanya dialek, varietas, atau ragam, mempunyai fungsi sosialnya masing-masing.

7) Penerapan praktis dari penelitian sosiolinguistik: topik yang membicarakan kegunaan penelitian sosiolinguistik untuk mengatasi masalah-masalah praktis dalam masyarakat. Misal, masalah pengajaran bahasa, pembakuan bahasa, penerjemahan, mengatasi konflik sosial akibat konflik bahasa, dll.

About these ads