Gamelan merupakan sebuah alat musik tradisional yang terdiri dari beberapa instrument didalamnya. Dan sudah ada sejak periode awal kerajaan Hindu di Jawa Tengah. Bukti adanya gamelan pada masa itu dapat dilihat dari bukti berupa gambar instrument musical pada dinding-dinding candi, seperti yang ada pada relief candi Borobudur dari abad ke-9 (sumarsam, 2003: 18). Mariko Sasaki mengutip dari Mantle Hood dalam bukunya The New Grove Dictionary of Music and Musician:2, bahwasannya gamelan berlaras slendro yang terdiri dari lima nada telah ada pada abad ke-6 atau ke-7 Masehi, sedangkan yang berlaras pelog yang terdiri atas tujuh nada baru muncul pada abad ke-12 Masehi. Ketika pada masa kerajaan Majapahit gamelan hanya terdiri atas instrumen besar (keras) seperti misalnya gong, bonang, dan saron dan instrumen berbunyi kecil (halus) seperti misalnya gender, rebab, gambang, dan suling, yakni disebut ‘gamelan Jawa’ sekarang (gamelan pelog/slendro).

Seni pertunjukkan ini sangat digemari berbagai kalangan, dari yang anak-anak bahkan usia lanjut. Alunan suara musik yang khas menjadikan gamelan menjadi salah satu seni pertunjukkan tradisional yang menarik untuk disaksikan. Suara yang beraneka ragam dari beberapa instrumen gamelan membuat gamelan harus dimainkan banyak orang dengan latihan yang khusus untuk menghasilkan pertunjukan yang istimewa. Bahkan dalam bukunya Wasisto Gamelan Dance And Wayang In Jogyakarta, mengungkapakan bahwasannya orang-orang dari Kawedanan Hageng Krida Mardawa untuk memainkan Gamelan Sekati yang ada di keratin Jogjakarta harus berlatih secara intensif sebelum bermain selama minggu sekaten.

Gamelan tidak hanya berada di Yogyakarta saja, melainkan masih banyak daerah yang memiliki seni pertunjukkan gamelan, seperti halnya Solo. Kedua kota ini berdekatan dan memiliki banyak kesamaan, namun dalam gaya yang dibawakan dalam permainan gamelan keduanya mempunyai ciri tersendiri. Sutton (dalam Sumarsam,2003: 67) mengungkapkan bahwa gamelan Yogyakarta mewakili suatu kesinambungan gaya sebelum pembagian Mataram, sedangkan gamelan Solo dikembangkan menuju gaya baru sesudah pembagian kerajaan. Sumarsam berpendapat dalam bukunya, bahwasannya gaya Yogyakarta menonjolkan gaya tabuhan yang tetap gagah, dan gaya Solo terkenal dengan permainan yang lemah lembut dan rumit. Sebenarnya, gamelan sendiri tidak hanya berada di Yogyakarta dan Solo, melainkan masih banyak gamelan yang berada di kota-kota lain, bahkan di luar Jawa seperti yang berada di Sunda.

Jenis Instrumen Gamelan

Untuk pengenalan gamelan sendiri memiliki beberapa instrumen yang dimainkan dalam setiap pertunjukkannya. Dibawah ini merupakan daftar nama instrumen dalam gamelan beserta pengertian singkatnya.

  • Bonang                        : satu set sepuluh sampai 14 gong-gong kecil berposisi horizontal yang disusun dalam dua deretan. Bonang sendiri masih dibedakan menjadi 3 menurut ukuran, fungsi, dan oktafnya.

–          Bonang Barung                  : berukuran sedang, beroktaf tengah sampai tinggi, dan menjadi salah satu instrumen pemuka.

–          Bonang Panembung        : berukuran paling besar, beroktaf tengah sampai rendah, dan dimainkan dalam tingkat kerapatan yang lebih rendah daripada balungan.

–          Bonang Panerus                :  berukuran paling kecil, beroktaf tinggi, dan berkecepatan 2 kali lipat daripada bonang barung.

  • Gambang                  : terbuat dari bilah-bilah kayu yang dibingkai pada gerobogan yang juga berfungsi sebagai resonator. Berbilah 17 sampai 20 bilah, dan mencakup 2 oktaf atau lebih.
  • Gender                        : terdiri dari bilah-bilah metal ditegangkan denga tali di atas bumbung-bumbung resonator. Gender juga terbagi dua macam, yaitu:

–          Gender Barung       : berukuran rendah dan beroktaf rendah.

–          Gender Panerus     : berukuran kecil dan beroktaf tengah sampai tinggi.

  • Gong                             : gong sangat penting untuk menandai permulaan dan akhiran gendhing dan member rasa keseimbangan setelah berlalunya kalimat lagu gendhing yang panjang. Gong terbagi 2 macam, yaitu;

–          Gong Ageng         : ditabuh untuk menandai permulaan dan akhiran kelompok dasar gendhing.

–          Gong Suwukan     : ditabuh untuk menandai akhiran gendhing yang berstruktur pendek, sampai lancaran, srepegan, dan sampak.

  • Kempul                      : gong gantung berukuran kecil untuk menandai aksen-aksen penting dalam lagu gendhing.
  • Kendhang                  : berfungsi untuk menentukan irama dan tempo, juga menetapkan iramanya. Kendhang berperan penting dalam salah satu instrumen pemuka. Bedasarkan ukuran dan fungsinya, kendhang terbagi menjadi 4 macam, yaitu;

–          Kendang Ageng                : ukurannya paling besar, dan dimainkan untuk gendhing atau seksi dari gendhing yang berwatak tenang dan wibawa.

–          Kendhang Wayangan      : berukuran sedang, khusus untuk mengiringi pertunjukkan.

–          Kendhang Ciblon              : berukuran kecil, untuk mengiringi tarian.

–          Kendhang Ketipung         : berukuran paling kecil, dan dimainkan dalam kombinasi dengan kendhang ageng dalam suatu teknik dinamakan kedhang kalih.

  • Kenong                        : berfungsi untuk menggaris bawahi struktur gendhing, nada-nada kenong juga berhubungan dengan lagu gendhing.
  • Kethuk Kempyang         : berfungsi memberikan aksen-aksen alur gendhing menjadi kalimat-kalimat yang pendek.
  • Rebab                               : instrumen kawat gesek dengan dua kawat ditegangkan pada selajur kayu dengan badan bentuk hati ditutup dengan membrane kulit sapi. Berfungsi sebagai instrumen pemuka, dan diakui sebagai pemimpin lagu dalam gaya tabuhan lirih.
  • Saron                           : instrumen berbentuk bilahan dengan enam atau tujuh bilah, yang berfungsi sebagai resonator. Instrumen ini ditabuh dengan tabuh yang terbuat dari kayu atau tanduk. Terdapat tiga jenis saron, yaitu;

–          Demung                                   : saron ukuran besar dan beroktaf tengah.

–          Saron Barung                         : berukuran sedang dan beroktaf tinggi.

–          Saron Panerus (Peking)     : saron paling kecil dan beroktaf paling tinggi. Peking ini memainkan tabuhan rangkap dua atau rangkap empat lagu balungan.

  • Slenthem                    : slenthem termasuk keluarga gender dari sisi kontruksi; kadang-kadang ia dinamakan gender panembung. Tetapi slenthem mempunyai bilah sebanyak bilah saron dan beroktaf paling rendah dalam kelompok instrumen saron.
  • Suling                              : suling bambu yang memainkan lagunyadalam pola-pola lagu bergaya bebas metris. Dimainkan secara bergantian, biasanya pada waktu lagunya mendekati akhiran kalimat. Tetapi kadang-kadang pemain suling juga memainkan lagu-lagu pendek di permulaan atau di tengah kalimat lagu.