Bangunan yang satu ini tentu sudah tidak asing bagi kita. Kisah Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang akan mengantarkan kita dalam sebuah kisah berdirinya candi ini. Pembuatan seribu candi dilakukan oleh Bondowoso untuk memenuhi permintaan Roro Jonggrang sebagai mas kawin jika ingin menikahinya. Sebenarnya persyaratan yang diajukan oleh Jonggrang ini dikarenakan Bandung Bondowoso telah membunuh ayah Roro Jonggrang, Prabu Ratu Boko dalam sebuah pertempuran. Kemudian Bondowoso pun menuruti permintaan Roro Jonggrang untuk membangun seribu candi selama satu malam. Bondowoso yang sakti mengerahkan pasukan jinnya untuk membantu membuat seribu candi yang akan dipersembahkan pada Roro Jonggrang. Dengan menggunakan kekuatan para jin, proses pembuatan candi sangat mudah dan cepat. Mendengar hal itu, Jonggrang yang sebenarnya tidak menyukai Bondowoso kemudian mencari akal untuk menggagalkan pembuatan seribu candinya.

Jonggrang menyuruh para abdinya untuk membantu menggagalkan pekerjaan para jin Bondowoso. Dia dan para abdinya membakar jerami dari arah timur supaya disangka matahari sudah terbit. Hal itu menjadikan para jin kalang kabut dan lari karena mengetahui matahari akan segera terbit. Ketakutan para jin terhadap cahaya yang dibuat oleh Jonggrang dan para abdinya membuat pembuatan candi gagal. Candi yang sudah dibuat oleh para jin Bondowoso sudah hampir selesai, hanya kurang satu candi saja.

Mengetahui apa yang dilakukan oleh Jonggrang terhadap para pasukannya jinnya, Bondowoso marah besar. Kemudian ditemuilah Jonggrang oleh Bondowoso dengan emosi yang meluap. Karena kelicikannya, Roro Jonggrang pun dikutuk oleh Bondowoso sebagai batu sekaligus melengkapi seribu candinya. Dan akhirnya tempat tersebut dinamakan candi sewu.

Sedangkan menurut data yang ada, candi ini merupakan candi Buddha yang di bangun pada akhir abad ke-8, dan berada di desa Bugisan, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah. Candi Sewu dahulunya merupakan candi kerajaan yang digunakan sebagai pusat kegiatan keagamaan. Kedekatannya bangunan ini dengan Candi Prambanan, menunjukkan pada zaman dahulu Hindu dan Buddha hidup berdampingan. Ditemukannya prasati berangka tahun 714 C atau 792 M, yang menyebutkan adanya penyempurnaan bangunan suci yang bernama Manjus’rigra, yaitu rumah Manjusri sebagai salah satu Boddhisatwa dalam agama Buddha.

Candi Sewu

 

Candi Induk Sewu mempunyai bilik utama (bilik tengah) dan empat buah bilik penampil. Masing-masing bilik penampil mempunyai pintu masuk. Pintu masuk sebelah timur sekaligus berfungsi sebagai pintu masuk utama menuju bilik tengah. Dengan demikian candi Induk Sewu menghadap ke timur.

Disana juga terdapat Candi Perwara yang disusun dalam empat deret membentuk empat persegi panjang yang konsentris. Pada deret I terdapat 2 bangunan, deret II 44 bangunan, deret III 20 bangunan, dan deret IV terdapat 28 bangunan. Seluruh Candi Perwara yang berada pada deret I, II Dan IV mempunyai orientasi keluar (membelakangi Candi Induk), sedangkan deret III mempunyai orientasi kedalam (menghadap Candi Induk), Candi Apit terletak di antara Candi Perwara deret II dan III, masing-masing sepasang di setiap penjuru. Kedudukan setiap pasang Candi Apit mengapit jalan yang membelah halaman ke dua tepat pada sumbu-sumbunya. Delapan Candi Apit tersebut mempunyai orientasi ke jalan yang membelah halaman kedua. Pada keempat ujung jalan di dekat pagar halaman ke dua, masing-masing terdapat sepasang arca Dwarapala ukuran raksasa. Tinggi arca kurang lebih 229,5 cm dan ditempatkan diatas lapik persegi setinggi kurang lebih 111 cm. Pintu dan pagar keliling halaman kedua yang terbuat dari batu putih pada saat ini dalam keadan runtuh. Namun berdasarkan reuntuhannya dapat diketahui bahwa pagar keliling halaman ke dua halaman ini berukuran kurang lebih seratus tujuh puluh meter kali seratus delapan puluh tujuh meter.

Dwarapala selalu menjaga candi setiap saat

 

Candi Sewu secara vertikal dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu kaki, tubuh dan atap candi. Seluruh bangunan terbuat dari batu andesit kecuali inti bangunannya yang terbuat dari tatanan bata merah yang membentuk kubus. Struktur bata merah berbentuk kubus ini tidak dapat dilihat dari luar karena letaknya berada di dalam bangunan. Pada kaki candi terdapat sederetan hiasan relief yang menggambarkan motif purnakalasa atau hiasan jambangan bunga, juga “arca” singa pada setiap sudut pertemuan antara kaki dan struktur tangga. Selain itu pada sisi luar pipi tangga yang ujungnya berbentuk makara, terdapat relief yang menggambarkan seorang yaksa, kalpawrksa, dan jambangan bunga berbentuk sankha.

Cinding tubuh candi membagi bangunan menjadi 13 bagian yaitu satu bangunan tengah, empat lorong, empat selasar dan empat penampil. Setiap penampil mempunyai pintu ke luar dan pintu penghubung dengan lorong, sedangkan lorong-lorong tersebut juga mempunyai pintu penghubung dengan selasar di kanan kirinya. Khusus pada lorong timur terdapat pintu penghubung dengan bilik tengah. Di dalam bilik tengah terdapat sebuah asana lengkap dengan sandaranyya yang ditempatkan merapat ke dinding barat ruangan. Diduga asana tersebut dahulu diisi Arca Manjus’ri yang tingginya kurang lebih 360 cm. Sedangkan setiap bilik penampil diduga dahulu berisi enam arca yang diletakkan dalam enam relung, masing-masing tiga relung, masing-masing tiga relung berjajar di dinding kanan dan kiri. Hiasan-hiasan yang ada pada tubuh candi antara lain :

  • Kala makara pada ambang pintu-pintunya.
  • Relief seorang dewa yang duduk dalam posisi vajrasana, kepalanya dikelilingi rangkaian api (siracakra) sebagai lambang Kedewaan. Relief ini terdapat di bawah kala.
  • Relief-relief yang menggambarkan beberapa penari dan pemain kendang, terdapat pada dinding luar pagar langkan. Gana (makhluk kayangan yang digambarkan seperti orang cebol) terdapat pada sudut-sudut bangunan.