Beberapa bulan yang lalu saya menemukan sebuah buku menarik tentang kafein di sebuah toko buku. Buku berjudul “The Miracle Of Caffeine, Manfaat Tak Terduga Kafein Berdasarkan Penelitian Paling Mutakhir” yang ditulis oleh Peneliti dari Universitas Temple, AS; Bennett Alan Weinberg dan Bonnie K. Bealer itu lantas membuat saya penasaran dan bertekad untuk membelinya. Baru beberapa minggu yang lalu saya mencarinya lagi dan membelinya. Ternyata mendapatkan buku ini pun tidak semudah menemukan novel-novel best seller yang pasti dipajang di setiap toko buku. 
Ada begitu banyak kontroversi mengenai efek kafein bagi tubuh kita. Buku ini membuat kita berpikir ulang mengenai kafein karena faktanya ada begitu banyak potensi yang dimiliki senyawa golongan xanthin ini, yang dapat berkembang menjadi efek positif maupun negative, tergantung penggunaannya. Buku ini menawarkan begitu banyak efek positif kafein untuk meingkatkan kesehatan, mengasah kreatifitas, membangun emosi positif, dan masih banyak efek-efek positif lainnya.
Dosis Kafein
Hal yang mungkin tidak semua orang tahu bahwa dosis kafein bersifat individual. Setiap orang memiliki dosis yang berbeda untuk mendapatkan efek optimal dari kafein. Untuk mengetahuinya, sebaiknya kita melakukan eksperimen terlebih dahulu pada diri masing-masing untuk mengetahui dosis yang tepat bagi kita. Sangat sulit mengetahui kadar kafein yang terkandung dalam kopi, teh, coklat, minuman kola, atau produk-produk lain yang mengandung kafein. Untuk mengetahui dosis yang tepat, sebaiknya gunakan pil kafein yang sudah diketahui kadar kafeinnya.
Ada banyak factor yang mempengaruhi dosis kafein bagi seseorang, di antaranya kepekaan individu terhadap kafein (ditentukan oleh factor genetic, tipe kepribadian, kualitas kesehatan,berat badan, dll), laju metabolisme kafein dalam tubuh, manfaat kafein yang diinginkan. Pada kondisi sakit, seseorang perlu meningkatkan dosis kafein untuk mendapatkan efek yang sama pada saat dia sehat. Orang-orang dengan tipe kepribadian introver memiliki dosis yang lebih rendah dibandingkan orang-orang berkepribadian ekstrover. Pada 1998 seorang ahli psikologi, Hans Eysenck, dalam bukunya berjudul “Intelligence : A New Look”, menyatakan bahwa orang yang introvert lebih dekat dengan tingkat kinerja optimal sebab mereka menggunakan system saraf pusat dengan lebih ekstensif-mendekati potensi maksimal mereka-dan relative lebih tahan terhadap efek psikofarmakologi kafein dan obat-obat lain daripada orang yang ekstrover. Sedangkan orang-orang dengan berat badan rendah membutuhkan dosis yang lebih rendah dibandingkan orang yang berat badannya lebih tinggi. Faktor lain yang juga mempengaruhi dosis kafein adalah jenis kelamin. Pria membutuhkan dosis lebih tinggi daripada wanita.
Kurva Yerkes-Dodson
Fakta unik lain mengenai kafein ditunjukkan dengan kurva aktifitas kafein Yerkes-Dodson-yakni hubungan antara tingkat stimulus atau rangsangan dan tingkat usaha atau kinerja. Kurva ini berbentuk huruf U terbalik. Dosis kafein yang rendah memberikan sejumlah keuntungan. Jika dosisnya ditingkatkan, akan memberikan keuntungan lebih besar. Namun, dosis kafein ini ada titik puncaknya. Ketika batas ini telah terlampaui, maka dosis menjadi terlalu tinggi dan akan mengurangi efek positif yang didapatkan dengan dosis yang lebih rendah, bahkan cenderung merugikan. Dosis yang dimaksud disini bergantung pada factor-faktor yang telah dibahas sebelumnya. 
Sampai saat ini kafein dikategorikan dalam daftar senyawa yang aman atau GRAS (generally Recognized As Safe) oleh FDA (Food and Drug Administration). Namun bukan berarti mengonsumsi kafein tidak menimbulkan efek samping. Mengonsumsi kafein lebih tepat dikatakan senagai seni daripada sains. Kafein lebih aman dibandingkan dengan substansi obat manapun dalam farmakope (buku daftar obat beserta zat aktif dan zat pembantunya). Kafein tergolong aman untuk orang dewasa sehat dan tidak meningkatkan risiko penyakit jantung, kanker, atau kematian. Walaupun demikian, dosis yang terlalu banyak dapat mengakibatkan gemetar, insomnia, dan bahkan kecemasan. Konsumsi kafein secara rutin dapat menimbulkan toleransi terhadap efek-efek kafein tertentu, seperti efek kafein untuk membuat seseorang terjaga, namun tidak menyebabkan toleransi pada efek-efek yang lain seperti meningkatkan memori, logika, suasana hati, dan capaian atletik. 
Efek samping kafein
Walaupun sejumlah efek kafein tidak menyebabkan toleransi, tidak dapat disangkal bahwa kafein menyebabkan ketergantungan fisik. Ketika kita mengonsumsi suatu senyawa secara teratur untuk meningkatkan kemampuan fisik lalu tiba-tiba memutuskan pemakaiannya, kita akan mengalami gejala putus pemakaian (withdrawal symptoms). Ketidaknyamanan fisik dan kejiwaan yang dialami ketika menghentikan konsumsi kafein secara tiba-tiba bervariasi pada tiap individu, tergantung factor genetic dan tingkat penggunaan kafein. Semakin banyak konsumsi kafein harian seseorang, maka semakin kuat ketergantungan fisik terhadap kafein, dan akan semakin buruk pula gejala putus pemakaian yang dialami saat berhenti mengonsumsi kafein secara tiba-tiba. Gejala-gejala yang mungkin timbul di antaranya sakit kepala, kelelahan, kurang tidur, emosi buruk, kesulitan berkonsentrasi, depresi, cemas, sensitive, gejala menyerupai flu, nyeri otot, dan mual. Untuk menghindari efek-efek negative tersebut, sebaiknya kurangi dosis kafein harian sedikit demi sedikit untuk menghentikan penggunaan kafein. Namun jangan khawatir, efek withdrawal symptoms ini tidak seperti pada penggunaan obat-obatan terlarang seperti heroin, kokain, atau amfetamin yang menyebabkan kerusakan serius dan bersifat irreversible. Penghentian kafein tidak menyebabkan kerusakan yang berarti pada tubuh kita. Hal yang perlu diwaspadai adalah sindrom “caffeinism”. Sindrom ini merupakan kondisi psikiatrik yang dialami penderita yang terus menggunakan jumlah besar kafein sekalipun hal itu berakibat buruk bagi mereka. 
Buku ini pun dilengkapi dengan beberapa tes mandiri yang langsung dapat digunakan oleh pembaca untuk menguji efek kafein pada diri mereka. Pada bab yang membahas tentang efek kafein dalam mengasah pikiran juga terdapat alamat situs yang memuat permainan yang bagus untuk mengukur kemampuan logika visuospasial, kecepatan reaksi, dan ketahanan mental. Coba saja buka situs http://www.vivarin.com atau http://www.pbs.org/wgbh/nova/everest/exposure/stroopintro.html atau http://www.faculty.washinton.edu./chudler./java/ready.html 
Saya merekomendasikan buku ini bagi para pecinta kopi atau bagi anda yang tertarik mengetahui seluk beluk efek kafein bagi tubuh. Dengan bahasa yang ringan dan penggunaan kosakata yang mudah dimengerti, buku ini dapat dibaca siapapun yang ingin mempelajari kafein lebih dalam. Namun, jika Anda ingin tahu mekanisme kerja kafein dalam tubuh, sebaiknya Anda mencari jurnal-jurnal atau buku yang terkait karena itu tidak dibahas mendalam di buku ini. Lampiran dan daftar pustaka buku ini dapat juga dijadikan referensi bagi anda yang ingin mencari lebih banyak informasi dan penelitian mengenai kafein. 

“Jika kopi adalah racun, kopi adalah racun yang lemah.” Kalimat ini diucapkan di akhir perjalanan hidup Fontanelle, seorang pecinta kopi, yang hidup hingga 100 tahun. 

Habis baca buku ini,, aku jadi tahu kenapa aku selalu merasakan efek tidak nyaman setelah minum kopi (berdebar-debar, cemas, dan merasakan efek diuretic). Menurut analisaku, itu karena dosisnya ketinggian. Menurut kurva Yerkes-Dodson, dosis yang terlalu tinggi justru memberikan efek yang merugikan. Dilihat dari faktor-faktor yang menentukan dosis kafein, seperti berat badan, jenis kelamin, dan tipe kepribadian, dosis kafein ku memang rendah , untuk berat badan 45kg, dosis yang disarankan adalah 100mg (berat badan ku masih di bawah 45 kg), dengan kepribadian introvert, maka dosis seharusnya diturunkan lagi, dan jenis kelamin perempuan, jadi dosis kafein ku memang amat sangat rendah. Hal ini belum mempertimbangkan factor kecepatan metabolism dalam tubuh, tingkat kepekaan terhadap kafein, dan factor genetic yang lain. Sedangkan efek diuretic, kata buku ini, itu bukan efek dari kafein, melainkan efek dari cairan panas yang diminum (kopi biasanya diminum dengan air panas).

 

 

(Syefi Nuraeni Fitriana)