Pada suatu zaman, dimana masyarakat masih bertelanjang dada dan belum mengenal teknologi seperti yang sekarang ini, ada sebuah kisah tentang seorang laki-laki yang perkasa dan calon seorang raja besar di tanah Jawa.  Bermula dari rasa galau Dewa Hujan yang ingin memiliki seorang anak. Sang Dewa Hujan selalu memikirkan bagaimana supaya dia bisa nitis ke dunia dan hidup bersama para manusia dan seluruh isinya. Dewa Hujan ini sudah tidak sanggup menahan hasrat dan keinginannya supaya bisa tinggal di bumi. Kemudian dia bertanya kepada dewa-dewa lain perihal perasaan yang mengganggunya itu. Para dewa yang mendengar curhatannya kemudian merasa iba kepadanya, dan disuruhlah dia untuk menghadap Raja Dewa untuk membantu menghadapi masalahnya itu.

Setelah mendapatkan saran dari para dewa, kemudian sang Dewa Hujan ini menghadap Raja Dewa yang berada di surga. Setelah mengungkapkan semua perasaan yang mengganjal, Raja Dewa memberikan saran kepada Dewa Hujan itu untuk turun ke bumi dan bercinta dengan salah seorang wanita yang dipilihnya. Berangkatlah Dewa Hujan ke bumi untuk mencari seorang wanita yang akan dijadikan tempat singgahnya sperma sang Dewa Hujan. Sang Dewa Hujan kemudian berkeliling mengitari bumi untuk mencari wanita yang terpilih untuk diajak bercinta dengannya.

Berbulan-bulan sang Dewa Hujan mengitari bumi, namun belum ada satupun yang sesuai kriteria sang Dewa Hujan. Dewa Hujan ini hampir menyerupai karakter bule-bule yang datang ke Indonesia, yaitu suka yang berkulit eksotis. Sang Dewa Hujan cukup merasa lelah karena ternyata tidak mudah untuk mencari wanita idaman yang sesuai diharapkannya. Hari itu sangat melelahkan dan terlalu panas sengatan matahari yang berada tepat di atasnya.

Dewa Hujan yang merasa kepanasan kemudian memanggil Dewa Matahari untuk menghilangkan rasa panas tersebut. Dewa Matahari yang merasa sedang menjalankan tugasnya tidak mau menghentikan sinar matahari sampai tugasnya selesai atau Sang Raja Dewa menyuruhnya menghentikannya. Dewa Hujan yang sedang tidak karuan perasaannya menjadi tersinggung karena pernyataan Dewa Matahari yang demikian. Dewa Hujan dengan kekuatannya membuat mendung dan menurunkan hujan lebat ke bumi supaya tidak panas dan kehausan.

Hal tersebut menjadi fenomena aneh yang baru terjadi di muka bumi, panas matahari yang menyengat dengan guyuran hujan yang lebat. Para masyarakat setempat merasa khawatir dengan fenomena yang sedang terjadi. Mereka takut apakah hal ini pertanda sebagai kiamat. Kepanikan yang terjadi pada manusia tidak dipedulikan oleh Dewa Matahari dan Dewa Hujan. Sifat yang egois pada keduanya membuat keadaan bumi makin kacau. Dewa Matahari yang makin merasa terhina karena diganggu tugasnya untuk memberikan sinar matahari merasa marah. Kemudian Dewa Matahari menambah panasnya sinar matahari ke bumi, sedangkan Dewa Hujan yang merasa tidak dihormati menjadi jengkel dan mengeluarkan petir yang menyambar beserta hujan angin yang lebat.

Perseteruan antara dua Dewa itu berlangsung berhari-hari, sehingga membuat warga sekitar kesusahan dan banyak korban yang berjatuhan. Dewa Bumi yang merasa diberi amanah Raja Dewa untuk menjaga kestabilan bumi kemudian melaporkan kejadian itu kepada Raja Dewa. Mendengar laporan dari Dewa Bumi, Raja Dewa memerintahkan semua dewa untuk menangkap keduanya, Dewa Matahari dan Dewa Hujan. Dengan suara menggelegar melebihi suara halilintar, Raja Dewa berkata, “Barang siapa yang berani membuat kerusuhan denganku, akan ku hukum dengan tanganku sendiri”.

Mendengar perkataan Sang Raja Dewa, semua penghuni langit ketakutan dan segera bergegas menangkap Dewa Matahari dan Dewa Hujan. #bersambung