Bumi yang sedang kacau balau akibat ulah para dewa yang masih kekanak-kanakan mengakibatkan manusia khawatir dan resah dengan keadaan yang melanda. Sebuah kerajaan yang makmur damai sejahtera menjadi porak porak-poranda akibat kejadian itu. Sang Raja Kuwara  yang dermawan dan disayang oleh para rakyat beserta dewa-dewa di kahyangan mengadakan ritual untuk mengetahui penyebab kekacauan yang terjadi. Sang raja mengumpulkan semua pendeta dan para tokoh agama untuk bersama-sama mengadakan ritual persembahan untuk Raja Dewa supaya menghentikan bencana yang melanda. Perkumpulan pemuka agama sudah berkumpul di pesangggrahan milik sang raja. Para patih dan pasukan menjaga keadaan sekitar pesanggrahan demi tercapainya ritual suci tersebut. Tak seorangpun boleh masuk ke dalam, tak terkecuali permaisuri dan puteri-puteri kerajaan.

Dewi Kanya Tantra, puteri tertua dari sang raja merasah gelisah karena ayahnya sedang mengadakan ritual suci tersebut. Keadaan di luar yang makin mengerikan memuat sang Dewi Kanya menjadi makin khawatir. Badai hujan beserta guntur bergelegar makin menyeramkan. Sinar matahari yang panas dan menyilaukan berada di tengah keadaan angin badai itu. Sungguh tidak bisa di nalar keadaan yang seperti itu. Dewi Kanya yang makin ketakutan kemudian hanya mengurung diri di dalam kamar sambil berdoa pada para dewa kahyangan supaya menghentikan keadaan menakutkan ini. Permaisuri, isteri dari sang Raja Kuwara kemudian masuk ke kamar puterinya yang ketakutan. Sang Permaisuri mencoba menenangkan keadaan Dewi Kanya.

“Sudah lah nak, doakan ritual ayahmu semoga berhasil”, kata Permaisuri sambil memeluk anaknya.

“Ia bunda, tapi Kanya takut dengan keadaan yang menakutkan ini dan takut kalau nanti terjadi apa-apa dengan ayahanda”, jawab Dewi Kanya sambil menangis sesenggukan.

Sementara di pesanggrahan, para pemuka agama mencoba berdoa dan menghubungkan sang Raja dengan para dewa di kahyangan supaya bisa mengetahui apa yang terjadi. Setelah semua ritual dilakukan akhirnya terhubung juga dengan para dewa di kahyangan. Sang raja akhirnya bicara pada Dewa Resti. Dia mempunyai tugas sebagai dewa penghubung, atau bisa di bilang humasnya dewa-dewa di kahyangan. Kemudian terjadilah percakapan yang panjang antara Dewa Resti dan Raja Kuwara dalam ritual tersebut. Semua berharap supaya Raja Kuwara bisa memohon pada para dewa-dewa di kahyangan untuk menghentikan keadaan yang melanda bumi setelah Raja Kuwara berbincang dengan Dewa Resti. #bersambung