Ungkapan -timbul pertanyaan- dalam sebuah potongan dialog dalam pagelaran Laskar Dagelan yang pernah dipentaskan menjadikan suatu ungkapan yang menjadi bahan koreksi diri akhir-akhir ini. Bagiku, ungkapan tersebut merupakan suatu cermin sekaligus cambukan dalam setiap langkah hidup yang sedang saya jalani. Entah ini terlalu menghiperbolakan ungkapan tersebut atau memang benar-benar ungkapan yang harus saya pikirkan.

Beberapa bulan yang lalu setelah mendengar ucapan dari Gareng -tokoh yang mengucapkan kata itu- menjadi sebuah pertanyaan yang sering saya gunakan untuk diri saya sendiri. Banyak sekali kehidupan yang menjadikan saya bertanya-tanya dengan keadaan yang saya alami. Hal paling simpel dan mungkin agak sedikit lebay adalah kenapa orang-orang bisa membuat tulisan dengan bagus? Timbul pertanyaan. Bagi sebagian orang mungkin itu merupakan hal yang lumrah jika orang lain selalu bisa menulis lebih bagus daripada tulisannya sendiri, tapi tidak untukku.

Selalu saja saya merasakan orang lain itu lebih baik, bahkan jauh lebih baik. Jika ditanya apakah saya sudah mencoba untuk mencoba dan mencoba lagi agar bisa lebih baik dari tulisan orang yang saya rasa baik atau paling tidak sudah menyamainya, saya sudah melakukannya. Tidak sedikit usaha yang saya kerahkan untuk bisa mendapakan karakter tulisan yang saya inginkan namun belum juga hasil yang saya hasilkan bisa dibilang standar. Banyak membaca buku, tulisan-tulisan, bahkan blog-blog teman-teman yang saya anggap tulisannya bagus itu belum cukup untuk memperbaiki apa yang saya inginkan.

Kejadian yang sering saya alami ketika mencoba menulis seperti para writer idola saya justru malah makin parah. Ketika saya mencoba untuk menulis dalam sebuah notes dan saya biarkan dalam beberapa hari kemudian baru membacanya kembali ternyata alur dalam tulisanku acak adul. Berapa waktu yang harus dibutuhkan untuk mendapatkan tulisan bisa bagus itu belum bisa terjawab, bahkan teman-temanku yang sering saya ajak sharing mengenai teknik penulisan juga tidak bisa menjawab. Mereka -orang-orang yang saya minta saran mengenai tulisan- selalu mengatakan agar saya harus sering menulis apapun yang diinginkan, lama-lama akan membuat karakter dalam tulisan itu sendiri dan menarik untuk dibaca.

Selain mengenai bagaimana menulis yang bagus, saya juga merasa mempertanyakan diri saya kembali, kenapa teman-temanku sudah melampauiku dalam hal-hal yang saya inginkan. Belum lama ini saya menyadari adanya sedikit iri terhadap teman-teman lamaku yang ternyata sudah mendapat dunia -masa depan- yang saya anggap, WAW. Sudah 2 tahun jarang bertemu, tiba-tiba mendapat kabar dia sudah mendapat posisi dalam sebuah perusahaan migas di Indonesia. Apakah itu sebuah pencapaian dari usaha yang tidak aku ketahui selama 2 tahun jarang ketemu itu, atau dia hanya mendapat keberuntungan diawal. Teman jurusan yang sekarang masih sering bersama denganku tidak disangka dan diduga sudah menjabat sebagai sekjen di salah satu partai politik di Indonesia. Baru saja, sekitar 10 menit yang lalu -yang membuatku menulis post ini- mendapat kabar dari seorang teman bahwa dia minta didoakan semoga cepat lulus kuliahnya di Al-Azhar, Mesir. Tidak perlu ditanya dan iri terhadapnya yang kuliah di Al-Azhar, akan tetapi teman-temanku -yang juga teman-temannya- juga sudah mau lulus kuliah di Al-Azhar.

Mendengar berita teman yang gagal itu menyakitkan, tapi jika mendengar teman yang berhasil lebih dulu itu lebih sangat menyakitkan. Timbul pertanyaan. Kenapa mereka semua bisa seperti itu sedangkan saya masih saja berdiam diri dan belum move on dari zona aman ini. Belum bisa mengatakan timbul sebuah jawaban yang keluar dari benakku. Selalu saja ungkapan dari potongan dialog -timbul pertanyaan- Laskar Dagelan yang selalu keluar dari benak saya.

Terlintas sejenak yang keluar dari pemikiran saya….

“SAYA KURANG MOVE ON”