Satriya Lananging Jagad, itulah sebutan yang sering kita dengar tentang penengah dari Pandawa, Raden Arjuna atau Janaka. Hidup diantara saudara-saudara yang baik dan kasih seorang ibu -Dewi Kunti- yang selalu menyayangi dan merawatnya hingga dewasa menjadikan Arjuna pribadi yang baik. Putra Kunti yang satu ini sering sekali menjadi tokoh panutan bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa. Hidup sebagai seorang ksatria menjadikan tokoh Arjuna digandrungi oleh para penggemar wayang.

Sosok seorang Arjuna juga sering disalah artikan oleh para penggemar wayang -sebetulnya hanya pura-pura penggemar wayang- masa kini. Karakter yang ada pada Arjuna kemudian dijadikan sebagai pedoman bagi para pengamat gadungan untuk meniru gaya dan karakternya. Wajah tampan, baik hati, dan suka menolong merupakan beberapa sifat baik yang dimiliki Arjuna. Masyarakat memandang Arjuna sebagai heroes  yang tampan dan disenangi para orang.

Arjuna yang memiliki banyak isteri juga sering jadi sorotan bagi para pengamat gadungan yang mencoba menirunya. Pemahaman mengenai sosok Arjuna yang memiliki wajah tampan dan banyak istri ini kadang-kadang dijadikan icon seorang playboy. Mereka beranggapan seorang pahlawan itu berhak untuk mendapatkan wanita lebih, dan lebih parahnya lagi dikaitkan dengan tokoh reformasi bangsa ini, Soekarno. Sekilas untuk Soekarno. Beliau mungkin memiliki istri empat, tapi kenapa dia bisa demikian hanya dia yang tahu. So, jangan bandingkan.

Tidak sedikit masyarakat melihat sosok Arjuna dari sisi dia berpoligami. Mereka -orang-orang yang gadungan tadi- tidak mengerti betul cerita bagaimana dia bisa memiliki banyak istri. Semua istri Arjuna bukanlah hasil dari mbribik seperti anak-anak muda masa kini, melainkan dia mendapatkan istri-istrinya dari usahanya mengalahkan musuh maupun hasil dari pertapaan. Dalam hal ini, cerita Arjuna mendapatkan istri bisa dikaitkan dengan menolong wanita yang akan diperkosa -seperti kejadian di angkot Jakarta- dan juga proses sabar menahan godaan yang ada disekitar -sampai jodohnya ketemu- lingkungan kita.

Wujud apresiasi budaya itu bagus, namun jangan sampai pemahaman dari budaya sendiri itu kurang tapi seakan-akan mengerti dan memahami. Jika didengar oleh orang lain -bangsa lain- yang mengerti mengenai kisah itu, sungguh akan memalukan diri sendiri dan bangsanya. Semoga orang-orang yang disana bisa memahami dengan benar apa yang dibicarakannya

(hasil percakapan dengan teman -penggemar gadungan- di warung burjo)