Sengkuni…

Tokoh wayang yang satu ini paling saya benci tapi selalu dinanti. Dia merupakan bala kurawa dan saya beranggapan bahwa Sengkuni adalah salah satu penyebab terjadinya perang Bratayuddha. Karakter yang serakah dan suka menghasut ini merupakan salah satu penasihat dari pihak Kurawa. Para Kurawa ingin membunuh para Pandawa tidak terlepas dari hasutan Sengkuni. Dia selalu penyulut peperangan antara Kurawa dan Pandawa demi suatu tujuan yang diinginkannya.

Namun, Sengkuni memiliki peran yang sudah benar dengan jalannya. Bayangkan saja jika tidak ada seorang Sengkuni yang menyulut permasalahan, tidak akan ada perang Bratayuddha. Kisah Pandawa dan Kurawa pun tidak akan eksis sampai sekarang jika keduanya tidak memperebutkan kerajaan Astina.

Sengkuni ledha-ledhe yen baris ngarep dewe, ning barisane menggok, sengkuni kok malah ndeprok. Kalimat tersebut merupakan potongan lirik dari Jogja Hip Hop Foundation. Digambarkan dalam lirik itu bahwa seorang Sengkuni ini ledha-ledhe atau plin-plan dalam perbuatan sehingga membuat orang lain dirugikan. Omongan Sengkuni adalah hasutan yang menjerumuskan, bahkan mencelakakan. Namun, para Kurawa tetap mejadikannya sebagai seorang sesepuh dan penasihat bagi para Kurawa.

Akhir-akhir ini saya merasakan adanya Sengkuni-Sengkuni di negeri Indonesia. Kasus wisma atlete yang melibatkan oknum-oknum pemerintah menjadikan para tersangka wisma atlete seperti Sengkuni. Adanya unsur ledha-ledhe dalam pengadilan menjadikan KPK dan Jaksa Agung bekerja keras untuk segera menyelesaikan masalah itu. Sosok Sengkuni yang keluar dari dalam diri para tersangka ini menjadikan image dari masyarakat terhadap pemerintahan ini buruk -padahal memang sudah terlihat buruk- dan amburadul. Semoga kasus ini segera berakhir dan pihak KPK bisa mencari kasus-kasus lain yang masih tercecer bannyaknya.