Satu tahun setelah terjadinya bencana yang diakibatkan oleh Dewa Matahari dan Dewa Hujan, sang Raja Dewa menjadikan kedua dewa tersebut menjadi seorang manusia biasa. Dewa Matahari dikirimkan ke daerah timur dengan nama baru sebagai Aditya, sedangkan Dewa Hujan ditempatkan di daerah barat dengan nama Gana. Kedua dewa tersebut dipisahkan oleh raja dewa karena jika berdampingan ditakutkan akan berkelahi dan mengkhawatirkan masyarakat sekitar lagi.

Gana yang diasingkan oleh raja dewa di daerah barat menjalani hidup sangat sederhana, tidak seperti Aditya yang mendapatkan kemewahan karena dia dipungut oleh saudagar kaya raya. Gana menjalani hidup sebagai buruh angkut di pasar dan berpenghasilan sangat minim, bahkan terlalu minim untuk kehidupan sehari-hari. Namun, kehidupan Gana yang sekarang dirasakan lebih bahagia ketimbang ketika dia menjadi dewa di kahyangan. Keseharian Gana yang hidup minim menjadikan Gana terampil dalam semua hal karena tuntutan untuk bertahan hidup di dunia. Orang-orang sekitar yang hidup bersama Gana merasa kagum terhadap pemuda ini, kerja tiap hari tanpa ada keluhan sedikitpun. Perilaku Gana yang rajin dan terampil menjadikan banyak orang tua yang ingin menikahkan anak gadisnya kepadanya. Tidak kurang dari sepuluh keluarga yang sudah datang untuk melamar Gana, namun tak satupun diterimanya.

Gana yang sekarang telah menjadi manusia seutuhnya membuat dia berfikir terhadap kesalahan-kesalahannya masa lalu. Ketika jadi dewa dia hidup enak dan serba ada sehingga membuat dirinya merasa egois dan seenaknya. Gana merasa menyesal terhadap perbuatannya masa lalu ketika dia masih menjadi dewa dan bahkan sudah mengacaukan dunia dengan berseteru dengan dewa matahari. Gana berjanji pada dirinya sendiri jika dia bertemu dengan dewa matahari dia akan meminta maaf terlebih dahulu, dan jika diperbolehkan dia ingin menjadi manusia seutuhnya.

Gana yang selalu berdoa kepada sang dewata didengar oleh para dewa-dewa di kahyangan. Para dewa merasa prihatin dengan kehidupan yang sekarang ini, dan banyak para dewa yang memohon kepada raja dewa untuk mengembalikannya menjadi dewa hujan cuaca dan angin sebagai mana mestinya. Permohonan yang dilakukan oleh para dewa ditolak oleh sang raja dewa karena memang sudah takdirnya dia seperti  itu dan kelak dia akan kembali sebagai mana mestinya.

Pada suatu malam, dimana kampung dimana Gana tinggal ada seorang pencuri sapi milik salah seorang warga. Pencuri itu ketahuan dan akan dibakar hidup-hidup oleh warga sekitar. Sang pencuri yang masih usia belia itu diarak keliling kampung karena akan dibakar oleh warga sekitar. Kemudian Gana mendengar keributan yang terjadi diluar. Dia melihat seorang anak diarak dan kemudian diikat di tengah alun-alun untuk dibakar. Gana yang tidak tega melihatnya kemudian menghentikan tidakan para warga tersebut.

“Ada apa ini? Kenapa anak ini mau dibakar?, “tanya Gana kepada masyarakat”.

“Anak ini sudah mencuri sapi milik salah seorang warga, dan sepatutnya dia harus dibakar!, “jawab seorang warga”.

Kemudian Gana bertanya kepada anak itu kenapa dia mencuri sapi milik salah seorang warga. Anak malang mengatakan bahwasannya dia harus mencuri sapi karena akan dijual untuk mengobati ibunya yang sedang sakit. Warga yang terbakar amarahnya kemudia menaikkan si anak malang tersebut dalam sebuah perapian yang sudah disiapkan. Perkataan Gana tidak didengar oleh warga dan tetap akan membakar sang anak kedalam tungku api ukuran si anak.

Seorang warga kemudian menyalakan api di tungku tersebut untuk membakar si pencuri kecil. Api yang berkobar dalam perapian sudah membuat si anak menjerit histeris dan menangis sambil minta ampun. Pencuri kecil yang sudah dikelilingi api hanya bisa menangis dan memanggil ibunya yang sedang sakit seperti yang diceritakannya. Gana yang sudah tidak punya kekuatan apa-apa lagi merasa bingung harus berbuat apa. Kemudia Gana dalam hati berdoa sambil mengucurkan air mata supaya dewata memberikan hujan agar api itu padam.

Tak lama kemudian langit mendung dengan seketika dan petir bagaikan lidah api yang menyambar-nyambar sekitarnya. Hujan dan anginpun kemudian muncul disitu dan membuat warga kalang kabut ketakutan. Semua warga kemudian pulang kerumah masing-masing untuk menyelamatkan diri. Pencuri kecil juga makin ketakutan mendengarkan gelegar petir, angin, serta hujan turun secara tiba-tiba. Dalam hati Gana berterima kasih telah mendengarkan doanya. Disaat para warga kembali pulang kerumah dan meninggalkan si pencuri, Gana naik ke atas tungku api yang masih sedikit menyala untuk menyelamatkan si anak. Sang anak yang mencuri sapi itu menangis dan merasa sangat berterima kasih telah menyelamatkannya. Kemudian si anak diajak pulang kerumah Gana untuk istirahat sejenak karena kelelahan diarak keliling kampung juga dipukuli. #bersambung