Bahasa adalah media komunikasi antar makhluk cipataan Tuhan Yang Maha Esa. Bahasa tidak hanya dimiliki oleh manusia saja, melainkan binatang juga memiliki bahasa sendiri. Pada kesempatan kali ini tidak akan menjelaskan bahasa binatang itu apa dan bagaimana cara komunikasi mereka, melainkan akan membahas apa itu bahasa dalam kehidupan manusia. Bahasa memiliki dua jenis, bahasa tulis dan bahasa lisan. Bahasa tulis biasanya digunakan sebagai dokumen oleh penggunanya dan menggunakan tata bahasa yang baik dan benar, sedangkan bahasa lisan merupakan bahasa sehari-hari manusia tanpa  harus memperhatikan tata bahasa yang baik dan benar. Disini hanya akan dijelentrehkan tentang bahasa sepaham dan setahu penulisnya saja, jadi jangan beharap ini merupakan sesuatu yang ilmiah dan dijadikan acuan untuk tugas anda, jika memang anda punya tugas.

Di indonesia, yang notabenya adalah negara kepulauan memiliki banyak sekali variasi bahasa-bahasa daerah, diantaranya bahasa Jawa, Sunda, Melayu, Bali, Madura, dan masih banyak lagi. Bahasa-bahasa daerah tersebut merupakan bahasa ibu bagi penuturnya –yang besok akan dirayakan pada tanggal 28 februari 2012-, yaitu Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional. Tidak hanya di Indonesia, setiap negara pasti memiliki bahasa ibu masing-masing. Bahasa ibu sendiri adalah bahasa pertama yang didengarkan dan digunakan oleh penuturnya.

Untuk mengetahui apa bahasa ibu anda, cobalah ketika anda marah rasakan dengan seksama. Bahasa apakah yang anda gunakan ketika anda sedang menggerutu? Itulah bahasa ibu anda. Sebelum globalisasi, mudah sekali untuk mengetahui bahasa ibu anda. Saya orang Jawa pastilah bahasa ibu saya adalah bahasa Jawa, sedangkan anda orang Sunda pasti bahasa Sunda. Setelah globalisasi banyak sekali peradaban barat yang merambah ke negeri kita ini, dari budaya, ekonomi,politik, bahkan potongan rambut sekalipun mengikuti mereka.

Globalisasi yang mejalar sampai denyut nadi masyarakat Indonesia, menjadikan bangsa ini kehilangan jati dirinya. Banyak sekali perubahan-perubahan yang terjadi akhir-akhir ini. Parahnya perubahan itu menjadikan masyarakatnya gengsi akan jati diri bangsanya sendiri. Bentuk kecil dari parahnya perubahan tersebut adalah maraknya orang tua yang malu mengajarkan anaknya bahasa daerah, sehingga menjadikan sang anak tidak paham tentang bahasa dimana dia tinggal. Mari kita persempit lagi contoh parahnya perubahan itu. Banyak orang tua masa kini mengajarkan kepada anaknya untuk membiasakan memanggil orang tuanya dengan sebutan mama dan papa. Mereka beranggapan panggilan tersebut lebih moderen daripada ibu dan bapak, sedangkan ibu dan bapak itu biasanya untuk panggilan orang yang lebih tua, yang bukan dari pihak keluarganya. Mari kita sebut saja itu tindakan “gengsi” terhadap keadaan dan perkembangan jaman.

Tidak salah jika orang tua menerapkan hal yang demikian terhadap anak-anaknya sekarang, itu hak asasi manusia. Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan yang sudah ditetapkan dalam sumpah pemuda. Embel-embel hak asasi manusia, bahasa persatuan dan apa lagi yang lainya itu saya anggap sebagai pembelaan “gengsi”. Bukan suatu perbuatan yang melanggar undang-undang untuk mengajarkan anak-anaknya bahasa Indonesia maupun bahasa asing, dan juga tidak melanggar pancasila jika orang tua tidak mau peduli dengan bahasa ibunya. “Globalisasi sungguh luar biasa dahsyatnya”.

Kembali lagi ke konteks bahasa ibu. Sebenarnya anak-anak masa kini yang malu berbahasa daerah tidak lebih bagus dari anak-anak yang tetap menggunakan bahasa daerahnya. Meskipun sang ‘gengsi’ menggunakan bahasa Indonesia dalam kesehariannya, namun belum tentu kalimat yang digunakannya itu benar. Hasil sebuah pengamatan, bukankah lebih baik jika bisa berbahasa daerah juga bahasa Indonesia?!. Tapi kenapa banyak sekali orang tua, anak muda, dan orang-orang yang ‘gengsi’ terhadap bahasanya sendiri itu lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia dalam kesehariannya? Takut medok?

“Jangan pernah sekalipun menyalahkan Malaysia”.

Kalimat tersebut yang terlontar dari benak saya terhadap pengamatan-pengamatan yang ada di sekitar kita. Dari hal kecil untuk mempertahankan bahasa ibu saja sudah “gengsi” melampaui batas, apalagi mempertahankan buadaya yang ada di sekitar kita. “Bahasa juga budaya euy!”. Jika dari hal yang kecil saja sudah tidak mau apalagi yang besar. Malaysia yang memang dengan sengaja mengambil budaya di Indonesia tidak sepenuhnya disalahkan. Bagi saya lebih baik dilestarikan orang lain daripada dibiarkan membusuk dan mati dirumah sendiri.