Harapan yang menggebu akan menimbulkan kekecewaan
Kalimat tersebut melukiskan apa yang sedang saya alami baru-baru ini. rasa tidak adil, sia-sia, putus asa, dan sebagainya, bercampur menjadi satu dalam kemasan “kekecewaan”. Indeks Prestasi, atau sering kita kenal dengan IP, sudah membuat saya merasa menjadi orang yang hopeless dan tidak bergairah melihat orang-orang sekitar. Bukan dalam artian saya adalah orang yang men-dewa-kan IP. Melainkan karena saya merasa sudah berusaha keras, masuk tiap hari, dan klimaksnya bisa menjawab soal (hanya perasaan) tapi mendapatkan nilai kurang baik.
Bahasa Madura, salah satu mata kuliah favorit dan terkenal dengan nilai gampang dan dosen menyenangkan. Hal tersebut mungkin bagi sebagian orang mengalami fakta tersebut, bagi saya, dan orang-orang yang kurang beruntung, bahasa Madura adalah mata kuliah yang imposible. Kebanggaan yang saya bawa dari jurusan ke hadapan teman-teman KKN-Sumenep, Madura bahwa dalam jurusanku ada mata kuliah yang mempelajari bahasa Madura dan budayanya. Alasan tersebut yang menjadikan saya lolos seleksi pemilihan anggota KKN. Mereka semua mengira bahwa saya adalah orang yang bisa bahasa Madura. Hey…!!! “mangsamu gampang po?!”.
Dulu mata kuliah bahasa Madura adalah senjata andalan saya ketika di kelompok KKN saya, namun di jurusan sendiri, mata kuliah tersebut menjadi momok dan trauma bagi diri saya karena mendapatkan nilai yang tidak saya harapkan. Saya bukan tipekal orang yang suka protes terhadap apa yang terjadi. Jika saya mendapatkan nilai kurang memuaskan, saya selalu beranggapan bahwa saya masih kurang (tapi sambil marah-marah dan pukul-pukul apa yang ada). Gejala seperti ini timbul ketika saya sudah menempuh tahun yang cukup panjang di kampus. Empat tahun menjalani masa study di universitas ternama di Jogja dan Indonesia, membuat kesadaran diri untuk segera mengakhiri jenjang sarjana atau harus melanjutkan ke jenjang strata dua. Teman-teman yang sudah hampir lulus tahun ini menjadikan cambuk tersendiri bagiku untuk mengejar teman-temanku. Saya masih beruntung karena memiliki kesadaran untuk menjadi lebih baik dan mengejar ketertinggalan ini.
Nilai sebagai orientasi untuk sekarang ini. idealisme ‘nilai bukan segalanya, yang penting ilmunya’ telah saya tinggalkan untuk saat ini. sebenarnya tidak ada yang salah dengan idealisme tersebut, namun kadang orang-orang terlena –seperti yang saya alami- tentang pengertian tersebut. Ilmu memang merupakan sesuatu yang harus diutamakan dalam kuliah, sedangkan nilai adalah ukuran dimana kamu bisa membuktikan seberapa pemahaman yang kamu dapat dalam perkuliahan. Pemahaman yang sangat simple ini sering mengecoh para mahasiswa sekarang. Parahnya, orang yang salah tafsir tentang pengertian itu dan tidak mau tahu dengan keadaannya akan menjerumuskan dirinya sendiri. Saya termasuk orang yang beruntung dalam hal ini walaupun sebenarnya bodoh. Ketika pemahaman tentang arti nilai yang selalu diabaikan menjadikan semangat belajar menurun dan kemalasan yang mendera.
Apakah bentuk kesadaran yang terjadi padaku ini tergolong lambat?! “Saya merasa tidak!”. Ketika beberapa teman sudah hampir menyelesaikan studinya dan teman yang lain sudah mulai menyusun skripsi, saya masih kuliah. It’s okay, no matter everything what’s you think about me. Jalan orang berbeda-beda, tidak menutup kemungkinan jika memang jalanku lebih lambat dari kalian. Kalimat tersebut akhir-akhir ini sering menghantui dalam kehidupanku.
Usaha untuk mengejar ketertinggalanku dari teman-teman membuatku untuk membuat keputusan yang cukup signifikan. Dari seorang yang hobi pacaran, nongkrong bersama teman-teman, liburan keluar kota, dan pergi ke tempat-tempat yang menyenangkan berubah 180 derajat. Tidak ada yang namanya pacaran sekarang ini, nongkrong untuk sekedar mendinginkan kepala dan mencari inspirasi, liburan dengan kegiatan-kegiatan pengembangan diri (meskipun belum tentu apa yang aku lakukan suatu perkembangan), dan tidak adanya lagi rasa penasaran untuk melihat tempat-tempat yang menyenangkan. Perubahan semacam itu dilakukan untuk mencapai nilai maksimal dan mengejar ketertinggalan. Semangat kuliah yang tidak pernah padam semester ini pun terasa membakar diriku sampai ke organ-organ yang terdalam. But see that!
Mata kuliah pilihan bahasa Madura yang saya rasa bisa dan benar tapi dapat nilai dibawah standar. Mengulang mata kuliah yang seharusnya mendapat nilai A namun masih jauh dari harapan. Parahnya, ketika saya melihat hasil ujian tengah semester nilai yang saya dapatkan tinggi dan melebihi teman-teman yang notabenya lebih pintar dariku, tapi di akhir cerita tetap saja mereka mendapat nilai yang lebih bagus dariku. Shit!.
Menurut orang jaman dahulu, “orang yang berhasil adalah orang yang sering mengalami kegagalan”. Pepatah yang sangat menaikkan mental saya kembali, namun tidak sepenuhnya saya mempercayainya. Pilihan yang harus saya jalani kali ini adalah “terus atau terus”. Kesadaran akan rendahnya kepamahamanku yang agak sedikit lambat harus diimbangi dengan semangat yang melebihi mobil Ferari milik Alonso, motor Yamaha yang digunakan Lorenzo, dan KA Bima Jakarta – Malang. Ada seorang kapten kapal dan awaknya yang ingin menyerang pasukan lawan di pulau seberang. Setibanya sang kapten dan awaknya di tepian pulau milik musuh, dia berkata pada awaknya, “Hancurkan kapal kita!”. Kapalpun dihancurkan hingga tenggelam ke dalam lautan luas. Kemudian sang kapten bertanya pada pasukannya, “Sekarang kalian sudah ada di hadapan musuh, kalian ingin mati bertarung di medan perang atau mati menyelamatkan diri dimakan oleh para ikan di lautan? Silahkan pilih!”.
Saat ini, saya adalah kapten kapal dan juga pasukannya. Sudah jauh perjalanan mencapai posisi saat ini, dan sudah saya hancurkan jalan untuk kembali ke asal mulainya permainan ini dimulai. Menyesal berarti ‘mati dimakan ikan di laut’ – Bingung berarti ‘mati tua/diserang musuh’ – Maju berarti “berjuang sampai mati”.
Pilihan saya hanya “BERHASIL atau TIDAK GAGAL”