Ketika dalam sebuah organisasi, kita harus loyal untuk menghidupi organisasi tersebut dalam wujud mengeksiskan organasasi ke luar ataupun menjalankan tanggung jawab organisasi itu. Sejak Sekolah Menengah Pertama atau SMP, para murid sudah dikenalkan dengan yang namanya organisasi yang disebut OSIS. Dalam OSIS tersebut para siswa-siswi SMP dikenalkan oleh sekolah tentang. Adanya struktur kepengurusan merupakan sebuah tatanan yang wajib adanya untuk controling kegiatan yang dijalankannya. OSIS tidak hanya di SMP, namun ketika SMA, OSIS merupakan organisasi yang bisa dibilang bergengsi di kelasnya. Sistem pemilihan bagaikan partai politik dengan adanya kampanye oleh para calon merupakan gambaran OSIS ketika masa SMA. Calon ketua OSIS biasanya orang-orang yang terlihat cool, confident, and smart. Karakter tersebut yang sering menjadikan ketua OSIS idaman para murid SMA –selain pemain basket- jaman saya sekolah.

Dari situlah saya beranggapan politik itu tidak baik. Kenapa saya bisa menyimpulkan seperti itu? Anggapan tersebut muncul ketika saya melihat teman-teman saya yang moncoba ikut pemilihan OSIS ketika SMA. Kampanye besar-besaran dengan mentraktir teman-temannya makan di kantin merupakan intrik yang ada pada calon ketua OSIS. Saya sebagai seorang yang ditraktir sih tidak mungkin menolak, sesuai pepatah yang mengatakan ‘rezeki itu jangan ditolak, tidak baik’. Dengan senang hati saya juga menikmati setiap hidangan yang tersedia di kantin sekolah. Toh juga dibayarin.

Dari banyaknya suara pemilihan, ternyata yang menang adalah yang paling banyak mentraktir masanya. Bisa disimpulkan, siapa yang berduit, dia yang menang. Hasil dari kesimpulan tersebut selalu saya bawa sampai sekarang ini, di kampus. Organisasi kampus yag sangat bergengsi, saling menunjukkan kemampuan kepada organisasi lain seakan membuat organisasi dalam kampus tidak serasi, likes a coldwars, istilah yang sering saya gunakan. Senyuman diantara organisasi berbeda seakan menjadi senyum palsu.

Perselisihan yang ada antar organisasi terlihat karena adanya idialisme yang kuat di dalamnya. Perbedaan pemikiran serta ego yang besar semakin dinginnya peperangan atau perselisihan yang terjadi antar organisasi. Beberapa orang yang terlibat langsung dalam perselisihan idialisme tersebut pernah mengatakan kepada saya, bahwa perbedaan gaya dan rasa dalam sebuah karya itu tidak bisa disatukan. Jika memaksakan untuk menyatukannya, maka bagaikan ‘tempe goreng selai nanas’.

Memiliki ideologi dalam hidup memang sangat baik dan juga dianjurkan, namun jika fanatik terhadap ideologi yang dimiliki dan parahnya tidak mau mendengar perkataan orang lain, sungguh dia bagaikan orang yang berkacamata kuda. Perjalanan hidup yang akan dialaminya hanya akan seperti yang dilihatnya. Dia tidak akan pernah tahu apa yang sudah terjadi dan apa yang akan terjadi di sekitarnya. Rasa kasihan kadang muncul terhadap organisasi atau orang-orang yang memegang peran penting dalam organisasi ini. Namun, rasa percaya diri dan keyakinan dalam dirinya seakan lebih besar daripada keyakinannya pada agama yang dianutnya. Sesuatu yang sungguh memprihatinkan dan juga menjengkelkan, karena jika saya bertemu dengan orang yang semacam itu, saya bisa berubah menjadi batu, diam dan tak mau tau!