Durna adalah sosok yang licik dan materealistis dalam pewayangan Jawa. Namun, sebenarnya itu tidak seluruhnya benar. Durna atau yang dulunya bernama Raden Kombayana adalah putra pangeran dan ahli waris dari Negara Atasangin. Dia memutuskan untuk pergi mengelana dan menemui saudara perguruannya, Sucitra. Sucitra adalah raja di Pancala dengan gelar Prabu Drupada. Prabu Baratwaja, ayah dari Raden Kombayana, sudah melarang anaknya itu untuk pergi meninggalkan kerajaan karena kelak dia akan menggantikannya menjadi raja selanjutnya.

Raden Kombayana memiliki watak yang keras. Dia tetap berpendirian teguh untuk pergi dari Negara Atasangin dan menemui saudara seperguruannya, Sucitra. Dalam perjalanan, Kombayana mengalami kesulitan dalam menyeberangi samudra untuk menuju Pancala. Segala kesaktiannya dikeluarkan agar dapat melewati samudra itu, tetapi tak berhasil juga. Berbagai usaha yang dia lakukan sia-sia.

Begawan Durna

Kemudian Kombayana mengikrarkan janji, bagi siapa saja yang dapat membantunya menyeberangi samudra itu akan dijadikan saudara jika dia laki-laki, tetapi kalau wanita akan dijadikan isteri. Tidak lama kemudian, datanglah seekor kuda betina jelmaan Bhatari Wilutama, puteri Bhatara Narada. Kuda betina itu ternyata dapat membantu Kombayana menyeberangi samudra.

Dalam perjelanan menyeberangi samudra, Kombayana dan kuda betina itu menjalin kasih begitu mesranya sampai tidak terasa lama diperjalanan. Namun, setelah mencapai daratan, kuda tersebut melahirkan seorang bayi laki-laki yang kemudian diberi nama Aswatama. Kemudian kuda betina itu kembali ke kahyangan dan Aswatama dibawa oleh Kombayana menuju Pancala.

Kombayana merasa ada beban tambahan setelah membawa anaknya, Aswatama. Namun, hal itu tidak mengurungkan niatnya untuk menemui saudara seperguruannya di Pancala. Dalam perjalanannya, Kombayana melewati sebuah hutan, tempat hunian ular naga. Di hutan itu Kombayana dihadang oleh Sarpajati, seekor ular naga, yang ingin memakan Kombayana dan Aswatama. Ternyata Kombayana dapat membunuh Sarpajati, dan ular naga itu berubah menjadi Dewi Krepini, adik pandita Krepa. Kemudian Kombayana menikahi Krepini dan menitipkan Aswatama untuk diasuhnya.

Akhirnya Kombayana tiba di Pancala, bertepatan dengan diadakanya sidang agung. Kombayana yang tidak tahu aturan langsung masuk dan bergabung dalam siding itu. Prabu Drupada yang mengetahui akan kehebatan saudara perguruannya itu kemudian mempersilahkannya untuk bergabung, dan memberitahu apa permasalahan yang sedang dibahas. Adik Prabu Drupada, Drupadi, meminta penjelasan tentang arti “sejati sejatinya cinta pria dan wanita”.

Kombayana yang penuh dengan kesombongan kemudian menawarkan diri untuk menjawab pertanyaan dari Drupadi. Namun, Kombayana mengatakan bahwa jawaban harus dirahasiakan dan tidak boleh orang lain mengetahui. Kombayana mengajak Drupadi ke tempat yang khusus untuk memberikan jawaban yang dibutuhkan. Namun, Kombayana malah tidak memberitahu pertanyaannya tetapi akan memperkosa Drupadi.

Patih Gandamana yang mengetahui tindakan tidak senonoh itu langsung menghajar Kombayana sampai cacat berat. Kombayana yang menyadari dirinya cacat kemudian insyaf dan bertobat akan kesalahannya. Tak lama kemudian Bhatara Narada datang dan memberi petunjuk untuk pergi ke Astina, dan dia juga memberikan pusaka Kyai Ardadedali guna mencapai kemajuan hidupnya. Mendengar perintah mertuanya itu, Kombayana langsung menuju ke Astina dengan nama baru Pandita Durna.

Sesampainya di Astina, Pandita Durna bertemu dengan dua kelompok satria muda, yaitu Pandawa dan Korawa. Melihat keduanya salaing bertengkar memperebutkan cupu lenga tala yang terjatuh di sumur. Durna menggunakan kesempatan dengan unjuk kebolehan akan kesaktiannya. Dia berhasil mengambil cupu itu dengan panah Ardadedali. Setelah melihat hal itu Durna kemudian diangkat menjadi guru bagi para Pandawa dan Korawa. Durna memanfaatkan keadaan itu, dia menyuruh Arjuna untuk membalaskan dendam kepada patih Gandamana karena telah membuat Durna cacat parah. Taktik yang digunakan Durna untuk menghasut murid-muridnya itu pun berhasil, Patih Gandamana berhasil ditakhlukkan oleh Pandawa, khususnya Arjuna, sehingga dia menjadi murid kesayangannya.