Dalam kisah pewayangan ada seorang tokoh yang bernama Karna. Dia adalah anak Kunti dari Bhatara Surya, dan masih sanak saudara dari para Pandawa. Karna lahir dari sebuah mantra yang diucapkan oleh Kunti ketika dia belajar ilmu oleh seorang resi. Pada saat itu, Kunti adalah gadis muda yang tercantik di seluruh Mandura. Kunti yang ketika itu menggunakan mantra pemanggil dewa ternyata tidak tahu jika mantra itu ada akibatnya. Setelah menggunakan mantra yang dipelajarinya, mendatangkan Bhatara Surya, dia harus menanggung resiko untuk memiliki anak dari sang dewa yang dipanggil.

Kunti yang sudah terlanjur membacakan mantra itu, keesokan harinya dia sudah hamil besar. Ayahnya Kunti, Prabu Basukarna yang mengetahui akan hal itu menjadi marah dan murka kenapa hal yang memalukan itu bisa terjadi. Sang Prabu Basukarna yang sudah terlanjur mengadakan sayembara untuk mencarikan Kunti suami menjadi kalang kabut. Melihat hal yang demikian, kemudian resi yang mengajarkan mantra itu datang kepada sang prabu untuk menyelesaikan permasalahan ini.

Resi itu mengatakan pada sang prabu akan membantu menyelesaikan masalah ini supaya para pangeran dan raja-raja yang ingin mengikuti sayembara tidak mengetahui apa yang terjadi pada Kunti. Prabu Basukarna kemudian menyerahkan permasalahan ini kepada sang resi agar sayembara yang dilakukan tidak mempermalukannya dan Negara Mandura. Kemudian sang resi membacakan mantra kepada janin yang ada dalam diri Kunti supaya keluar.

Seketika itu, janin yang dikandung Kunti kemudian keluar dari telinganya. Melihat hal itu, kemudian nama anak yang keluar itu diberi nama Karna. Setelah Karna keluar dari tubuh Kunti kemudian dibawa oleh sang resi. Kunti hanya menangis karena anaknya akan diasuh oleh orang lain, bukan dirinya sendiri. Namun, demi ayah dan negaranya, Kunti merelakan anaknya dibawa oleh sang resi. Setelah mendapatkan izin dari Kunti dan Prabu Basudewa, Karna kemudian dihanyutkan ke lautan oleh sang resi. Sebelum dihanyutkan ke laut, sang resi meramalkan bahwa kelak Karna akan menjadi seorang ksatriya yang hebat.

Air laut membawa tubuh Karna ke tepian laut, lalu ditemukan oleh sepasang suami isteri dari Astina. Mereka adalah kusir dan penjaga kuda kerajaan Astina. Oleh kedua orang tua angkatnya, Karna diasuh layaknya anak sendiri. Dia menjadi pemuda yang hebat dan kuat bersama orang tua asuhnya di lingkungan kraton Astina. Namun, belum seorangpun tahu bahwa dia adalah anak Kunti yang saat itu adalah isteri yang ditinggal mati Pandu, raja Astina sebelum Destarata, ayah para Korawa.

Suatu ketika, ada perang tanding antara Korawa dan Pandawa yang diadakan oleh guru mereka, Begawan Durna. Ketika itu Korawa yang berjumlah banyak kalah telak oleh para Pandawa yang hanya berjumlah lima orang saja. Duryudhana merasa harkat dan martabatnya diinjak-injak oleh para Pandawa, tetapi memang kekuatan Pandawa melebihi kekuatan para Korawa, apalagi Bimasena. Karna yang melihat kesusahan dan kekalahan Korawa, kemudian dia ingin membantu para Korawa supaya memenangkan perang tanding itu. Korawa yang mengetahui kalau Karna adalah anak seorang kusir Astina, hanya menertawakan niat baiknya itu. Tak satupun dari pihak Korawa mempercayai omongan dari Karna. Kemudian Karna menunjukkan kebolehannya kepada para Korawa, tetapi para Korawa tetap meremehkannya.

Karna yang tidak didengarkan oleh para Korawa kemudian mengajak perang tanding oleh Korawa, dan salah satu pihak Korawa itu ternyata berhasil dilumpuhkan dengan mudah. Duryudhana yang melihat kehebatan Karna kemudian membolehkan Karna ikut dalam perang tanding melawan Pandawa. Korawa yang masih meragukan kekuatan Karna, hanya melihat aksi Karna melawan para Pandawa saja. Namun, tidak disangka Karna sendiri dapat memukul mundur para Pandawa.

Duryudhana yang melihat hal itu kemudian memanfaatkan Karna. Dia sudah memiliki pikiran untuk menggunakan Karna di perang Bratayuddha kelak. Duryudhana kemudian memberikan jabatan dalam pemerintahannya di Astina, juga seorang isteri yang disukai Karna. Mendengar hal itu Karna sangat senang dan berjanji akan mengabdi kepada negaranya, yaitu Astina. Mendengar hal itu, Prabu Duryudhana sangat gembira karena memiliki senjata ampuh untuk mengalahkan para Pandawa.

Karna yang sangat loyal kepada Astina dan Duryudhana, kemudian diangkat menjadi senopati perang di Astina. Kunti yang mengetahui bahwa Karna itu adalah anaknya, sangat senang sekali. Namun, Kunti menyesalkan kenapa dia harus bergabung bersama para Korawa, bukan dengan saudaranya sendiri, Pandawa. Karna yang mengetahui bahwa Kunti adalah ibunya dan Pandawa adalah saudaranya menjadi terharu. Namun, jika Karna dibujuk untuk bergabung dengan para Pandawa dia akan tetap menolak.

Arjuna yang menemui Karna melakukan perbicaraan yang panjang lebar. Arjuna berharap agar kakakya, karna, mau bergabung bersama para Pandawa. Karna menolak dengan halus ajakan dari adiknya itu. Dia mengatakan jika Karna ikut Pandawa, maka itu tidak etis, karena Pandawa itu lima, bukan enam. Karna juga mengatakan bahwa mereka kelak akan saling membunuh di medan kurusetra saat perang Bratayuddha. Karna sudah mengetahui ramalan dewa yang mengatakan bahwa pihak Korawa akan mati semua di tangan para Pandawa. Namun, ramalan tersebut sama sekali tidak ditakutkan oleh Karna karena dia rela mati demi Negara yang telah memberikan hidup dan jabatan.

Arjuna yang mendengarkan pernyataan itu dari Karna hanya tergetar hatinya. Tidak disangka kakak para Pandawa ini memiliki nilai nasionalis yang tinggi melebihi siapapun. Arjuna juga mengatakan kepada Karna bahwa di perang Bratayuddha kelak, dia tidak akan ragu membunuh para Korawa di medan peperangan.

Pada perang Bratayuddha, Karna adalah orang yang berhasil membunuh Gathotkaca, putra Bima, yang telah banyak sekali membunuh para Korawa dan pasukannya. Namun, sesuai yang sudah ditakdirkan oleh para dewa, Karna mati terkena panah milik Arjuna.