Berawal dari kisah seorang resi yang bernama Resi Gotama di pertapaan Gunung Sukendro. Resi Gotama bertapa semedi kepada Sang Hyang Bhatara Guru agar diberikan isteri seorang bidadari cantik dari surga. Usaha yang keras dilakukan oleh sang resi. Hal tersebut membuat Bhatara Guru berbelas kasih terhadapnya. Kemudian Bhatara Guru menjanjikan akan memberikan isteri seorang bidadari yang bernama Dewi Windradi. Mendengar hal itu sang resi menjadi sangat bahagia, dan semakin khusyuk dalam bertapanya.

Dewi Windradi adalah seorang bidadari yang tinggal di kahyangan Suralaya. Kecantikan bidadari ini tidak ada duanya. Setiap laki-laki yang memandangnya pasti akan langsung terpesona oleh kecantikannya. Atas perintah dari Bhatara Guru akhirnya bidadari ini menjadi isteri dari sang resi. Sang resi sangat bahagia mendapatkan isteri seorang bidadari surga itu karena dia sangat baik dan penurut oleh suami.

Namun, meskipun statusnya Windradi adalah isteri resi Gotama, dia masih sering pergi ke kahyangan Suralaya untuk bertemu seseorang. Orang yang sangat ingin ditemui oleh Windradi adalah kekasih hatinya yang tak lain dan tak bukan adalah Bhatara Surya. Bhatara Surya dan WIndradi adalah pasangan kekasih sebelum Windradi dinikahkan dengan Resi Gotama oleh Sang Hyang Bhatara Guru.

Resi Gotama yang melihat isterinya sering izin untuk pergi ke kahyangan pun tidak pernah dilarang karena memang tidak ada curiga dari sang resi. Ketika Wedradi melahirkan Anjani, Subali, dan Sugriwa, dia diberi hadiah oleh Bhatara Surya berupa cupu manic asthagina. Fungsi cupu itu untuk melihat seluruh isi langit dan bumi.

Hadiah dari Bhatara Surya itu kemudian diberikan kepada Anjani, putri satu-satunya. Seketika itu, Jembawan, abdi dari anak-anak Resi Gotama melihat apa yang dihadiahkan kepada Anjani. Jembawan kemudian melapor kepada adik-adiknya Anjani, Subali dan Sugriwa, bahwa mereka telah diberikan hadiah berupa cupu oleh ibunya. Kemudian Subali dan Sugriwa mengadu kepada ayahnya karena merasa tidak adil. Resi Gotama hanya kebingungan mendengarkan apa yang dikatakan oleh kedua putranya itu yang meminta hadiah.

Kebohongan tidaklah abadi. Windradi dipanggil Resi Gotama dan disuruh menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Namun, tak sepatah katapun keluar dari mulut Windradi. Setelah melihat apa yang diperebutkan oleh anak-anaknya adalah cupu manic asthagina milik Bhatara Surya, Resi Gotama menjadi tahu apa yang selama ini dilakukan isterinya ketika izin untuk ke Suralaya. Kemudian Resi Gotama mengutuk Windradi menjadi batu besar karena dia telah bohong dan tidak saling jujur dalam hubungan rumah tangga. Kutukan yang dialami Windradi akan hilang ketika dia menjadi sarana untuk membantu perang besar kelak, yaitu Rama melawan Rahwana.

Para anak-anak yang masih memperebutkan cupu itu kemudian terdiam sesaat. Resi Gotama membuang cupu itu, dan mengatakan kepada anak-anaknya, barang siapa yang berhasil menemukan cupu itu pertama kali, maka dia akan menjadi pemiliknya. Ketiganya kemudian pergi mencari cupu itu ditemani abdinya, Jembawan. Subali dan Sugriwa yang melihat cupu itu jatuh ke dalam telaga kemudian berenang masuk telaga. Sedangkan Anjani yang tidak bisa berenang hanya bisa menunggu di tepi telaga sembari mencuci tangan dan wajahnya.

Ketika keluar dari telaga itu mereka yang tampan dan cantik mendadak berubah berbulu seperti kera. Ternyata telaga itu penuh kutukan dari sang dewa. Subali dan Sugriwa yang sudah berubah saling berkelahi karena tidak saling mengenal. Anjani yang hanya berbulu pada wajah dan tangannya juga merasa depresi melihat keadaan mereka. Setelah tersadar kalau mereka terkena kutukan lalu melaporlah ketiganya kepada ayahnya.

Sang ayah yang melihat ketiga anaknya berubah menjadi kera menjadi sedih dan mengeluarkan air mata. Mereka sudah terkena kutukan dari para dewa karena perbuatan mereka. Kemudian sang resi menyuruh ketiga anaknya bertapa agar kutukannya dihilangkan. Anjani disuruh bertapa telanjang seperti katak dan tidak boleh makan  dan minum apapun kecuali ada yang masuk ke dalam mulutnya langsung. Subali bertapa bagaikan kelelawar (ngalong) yang bergantungan di pohong dan tidak boleh makan dan minum kecuali apa yang ada disekitarnya. Kemudian Sugriwa disuruh tapa kidang dan tidak boleh makan apa-apa kecuali rumput-rumput yang ada disekitarnya. Resi Gotama mengatakan kepada anak-anaknya bahwa kutukan itu akan hilang jika tapa yang mereka jalani lancer.

Sampai saat ini tapabrata yang dilakukan ketiga anak Resi Gotama menjadi ritual masyarakat jawa. Tapa yang dilakukan masyarakat Jawa sekarang untuk mendapat kekuatan dan kesaktian layaknya ketiga anak dari sang resi. Terlihat angker dan seram, tetapi memang fenomena-fenoma di Jawa ini tidak lepas dari hal-hal yang berbau magis.