Saat ini aku uda tahun ketiga di Bul. Sudah banyak hal yang aku lalui disini, menambah banyak teman, pengalaman, bahkan kadang-kadang lowongan pekerjaan. Pertama kali aku masuk di Bul diwawancarai oleh @wask_ito yang waktu itu dia hanya menjadi seorang layouter. Prosesi wawancara yang kami lakukanpun tergolong kurang mutu, karena wawancaranya seperti forum curhat antara aku dan itok.

Disini aku gak mau cerita apa isi curhatanku dengan Itok, tapi lebih pada pengalaman berteman dengan cah-cah Bul. Yap, pengalaman yang paling santer dalam UKM Bulaksumur ini ya tentang kongko dengan orang-orang selo. Proses perjalanan ini sangat unik dan berkembang, terlebih dengan apa yang aku alami.

Tahun pertama masuk, aku coba berkenalan dengan cah-cah Bul, Beryl, Ijat, Remo, Chilmi, dkk. Mereka semua adalah senior di Bul, kecuali Chilmi, anak bawang yang eksisseperti aku. Aku menikmati obrolan dengan mereka-mereka yang suka kongko. Nah, disini aku mau menunjukkan perjalanan kongko selama di bul dengan berbagai perkembangannya.

Pertama, aku kongko di bul bersama tiga orang selo yang sedang mengharapkan cinta, maklum boss, masih muda. Ketiga members itu adalah aku, Ijat, dan Chilmi. Obrolan yang kami bicarakan selalu seputar perjuangan cinta. IJat Zaki, Chilmi Oki, dan aku dengan seseorang. Parahnya kami pada jaman itu, sampai rela tidur berhari-hari di bul demi melakukan sesi cuhat satu sama lain, sampai-sampai kita bertiga dijuluki Penjaga Pagoda ketika itu.
Namun, meskipun kita sudah sharing masalah cinta, tetap saja kandas, kecuali Chilmi dengan Oki yang berhasil. Sedangkan aku dan Ijat, NIHIL.

Kedua, aku kongko dengan Juned dan Anggi. Mereka yang selalu nongkrong berdua terlihat asik, tertariklah aku join dengan mereka. Di sini, aku yang jadi anak bawang karena paling junior dari segi angkatan akademis maupun angkatan di bul. Aku selalu join ketika mereka nongkrong,sampai lama kelamaan justru aku yang menjadi koordinator kongko mereka, dengan tagline ‘Kongko r’.
Kami tidak ngobrol masalah cinta disini, melainkan tema yang selalu kita angkat adalah masalah astrologi, kokologi, dan seputar karakter manusia yang dilihat dari golongan darahnya. Bersama mereka saya jadi tahu karakteristik dari setiap bintang dan darah yang mengalir, meskipun tidak selamanya itu semua menjadi pedoman untuk menjudgmen orang.
Kam mengadakan kongko setiap selesai tarawih sampai adzan subuh berkumandang. Begitulah kegiatan ramadhan yang aku lali di bul bersama mereka. Ya, maklum lah, aku masuk di bul karena jomblo, jadinya tujuannya ya cuma cari temen di bul🙂

Ketiga, kali ini sudah ada ana angkatan baru yang mendaftar di bul. Untuk kongko yang edisi ini peminatnya agak banyakan dari sebelum-sebelumnya, ada aku, Beryl, Itok (kadang-kadang), dan angkatan baru, seperti Adit, Anda, dan Reza yang ketiganya saat itu masih terlihat seperti pasangan homo.
Kami mengadakan kongko hampir setiap saat,di tempat yang sama, dan durasi waktunya pun sama. Di Mato dari jam 9 malam sampai 6 pagi. Kamipun dengan bodohnya menyebut itulah kongko sehat karena bisa sarapan pagi bersama. Tema yang selalu kami angkat selalu seputar the secret world, semua rahasia yang ada di dunia, seperti freemason, iluminati, dan sesekali masalah perfilman kancah nasional maupun internasional.

Keempat, kali ini adalah kongko terakhir (masih ada sampai saat ini). Sebenarnya member nya masih sama dengan kongko ketiga, hanya saja tidak adanya Beryl (karena sudah kerja) digantikan dengan Remo, Sidiq, dan Doni. Kali ini kongko yang saya alami sedikit mengalami perubahan karena faktor usia dan ijazah yang sudah didapatkan, Sarjana.
Obrlan yan dilontarkan seputar fenomena apa yang ada di sekeliling kita dengan didukung teori yang dipelajari di jurusan masing-masing. Beberapa member yang belum lulus seperti Anda dan Adit terpaksa mengikut alur para sajana yang kegilaan dengan knowledge, sehingga dengan terpaksa mereka hobi membaca buku agar bisa berkomunikasi ketika kongko.
K24 adalah tempat nongkrong langganan karena bisa 24jam sekaigus harga yang ditawarkan cenderung murah. Dengan fasilitas yang memadai dan harga yang murah kami pun menjadi betah .

Itulah yang terjadi saat ini, entah bagaimana lagi yang akan terjadi kalau aku diterima beasiswa S2 Linguistik UGM, mungkin akan ada pembaruan lagi, atau mungkin akan hilang dimakan jaman.

Itu kisah kongko-ku….bagaimana kisah kongkomu???