Masih seputar dengan Maslow, yaitu mengenai teori kebutuhan diri manusia. Jika yang sebelumnya kebutuhan manusia itu adalah ibadah, kali ini kebutuhan manusia dalam berfikir. Karena manusia ada karena manusia itu berfikir, katanya Pak Descrates.

Namun, yang dijadikan sebuah persoalan kali ini adalah pikiran yang dipikirkan. Belum lama ini, bahkan hampir setiap hari dalam sebuah perkumpulan para anak muda yang masih menggebu-gebu dengan teorinya, membahas mengenai Kapitalisme dan Sosialisme. Apa itu kapitalisme dan sosialisme? Lebih baik baca bukunya saja tentang keduanya.

Jadi, kalau dalam fenomena yang saya lihat di lingkungan mahasiswa, mereka selalu getol jika membahas dua konsep pikiran itu. Saya menyebut keduanya sebagai konsep pikiran karena kedua kata itu muncul dari hasil pemikiran orang, Smith dengan Kapitalismenya dan Marx dengan Sosialismenya.

Kedua hal itu sudah bertentangan namun sejalan sepemikiran. Dalam kasus ini para mahasiswa dididik dengan konsep kapital, tapi berusaha membecinya dengan mencoba menyuarakan benih-benih sosialisme. Kapitalisme sendiri merupakan sebuah teori ekonomi yang bermakna sebagai sebuah persaingan bebas, dan persaingan tersebut sudah diterapkan di setiap para mahasiswa menjalani ujian semester, bersaing untuk berprestasi. Sosialisme adalah bentuk kesetaraan dan diatur oleh pemerintah, dengan artian tanpa ada persaingan.

Tidak sedikit mahasiswa gencar memikirkan pemikiran Smith dan Marx. Tidak banyak mereka yang sadar kalau mereka semua yang mempermasalahkan dua konsep pemikiran itu sudah  ‘digarapi’ oleh pihak tidak bertanggungjawab. Kenapa bisa demikian? Persaingan dan kesetaraan adalah kuncinya. Semua ingin setara antar sesama manusia, tapi untuk menyetarakan diri dengan yang lain orang harus bersaing terlebih dahulu. Dan itu akan terus berlanjut oleh generasi ke generasi dan saling bergantian.

Semua itupun hanya sebatas bentuk dari kebutuhan berfikirku sebagai manusia. Dan, anda pun pasti punya pandangan yang berbeda juga. Namun, bahayanya jika kita terlalu memperdebatkan masalah seperti ini tanpa melihat keadaan dalam diri kita yang masih banyak kesalahan yang harus dibenahi. Akan lebih bijak jika sebaiknya manusia itu memikirkan pemikirannya sendiri untuk pengembangan diri yang baik untuk pribadi maupun orang lain, daripada sibuk memikirkan pemikiran Smith maupun Marx.