Archive for July, 2013


Tabiat: Melawan Tuhan

Acara 1000 ways to die adalah awalku berusaha mengerjakan ibadah secara maksimal. Secara tidak sengaja aku melihat acara di Indovision yang menyiarkan acara tersebut. Sungguh sangat sulit dipercaya tetapi bemar adanya. Ditampilkan dalam acara tersebut bagaimana kematian beberapa orang dengan mudahnya dan dalam berbagai bentuk yang berbeda. Tidak pandang waktu, umur, keadaan, atau apapun. Kematian yang sudah ditakdirkan Allah tidak bisa dipungkiri manusia.

Melihat beberapa rekaman di movie itu membuatku mendadak berfikir bagaimana jika hal itu terjadi padaku. Ketika berjalan mendadak mati. Innalillahi wa innailaihi rojiun, sesungguhnya semua yang diciptakan oleh Allah akan kembali pada Allah. Sungguh sangat mengerikan jika dalam keadaan lali beribadah kemudian sudah mendapat panggilan yang kuasa. Naudzubillah…

Aku merasa beruntung karena masih bisa sadar di bulan ramadan tahun ini. Kadang terfikir olehku jika ditimbang pahala dan dosanya, saya sangat yakin sebagai manusia kalau saya akan masuk neraka dengan semua kesalahanku yang ada. Bahkan, dosaku itu bisa jadi jauh lebih parah diantara teman-teman sekitarku. Sangat berutunglah aku yang saat ini berada di kalangan orang-orang baik.

Aku menjadi berfikir tentangku dahulu dan teman-teman yang belum sepenuhnya menyadari perlunya ibadah. @sadewaizat sempat mengatakan kepada salah seorang teman ketika mengobrol “ayo ibadah, gak usah sok atheis. Sudah bukan zamannya lagi sok jahat dan tidak ibadah itu keren”.

Perkataanya sungguh sangat simpel tapi dalam. Aku dulu berfikir tidak begitu peduli dengan ibadah karena faktor teman dan agar terlihat keren. Maklum, anak muda tidak sedikit yang suka melakukan perlawanan. Tapi menurutku itu adalah hal konyol. Melawan Tuhan? What’s that?

Melawan Tuhan demi dianggap gaul dan tidak kuper!

Stereotiping masyarakat muda tentang anak muda yang alim itu kuper adalah salah. Dan saya menyesali hal itu semua. Memilih pergaulan dengan teman daripada bergaul dengan Tuhan. Meskipun ada ayat sangqt terkenal yang menyabutkan antara hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia itu harus ballance, tapi masih banyak yang belum sadar kalau hubungan mereka lebih ke manusia daripada Tuhannya. Parahnya lagi, ayat itu dijadikan tameng untuk peduli sesama meskipun pada dasarnya itu tidak ada kebaikan di dalamnya.

Ramadan ini aku berharap para pemuda yang masih melawan Tuhan dengan berbagai cara agar supaya bisa sadar. Setidaknya lebih memahami apa yang sudah mereka ketahui.

Advertisements

Bulan puasa emang bulan yang penuh dengan berkah. Kali ini aku udah males banget mau posting isi ceramah taraweh lagi karena sering ketiduran sewaktu taraweh di masjid kampus. Lebih baik kalian ikut taraweh sendirI daripada liat dari postinganku.

Aku hanyabtersaar dengan beberapa hal yang terjadi di bulan Ramadan tahun ini, yaitu karena iklan komersil di tv swasta. Iklan yang selalu menunjukan propaganda dan pencitraan emang tidak salah, tapi tidak baik jika stereotiping tentang iklan itu buruk. Iklan di bulan Ramadan selalu penuh dengan kualitas, seperti iklan yang menunjukan ketulusan dan cinta kasih. Dan…ketika ada iklan yang menunjukan hubungan anak dengan orang tua selalu membuatku merasa berdosa. Iklan seorang anak yang sudah sukses dan memiliki keluarga sendiri selalu ditunjukan lupa akan orangtuanya. Hal demikian benar adanya, tidak sedikit anak yang melupakan orangtuanya ketika bertumbuh dewasa. Hal itu hampir terjadi padaku.

Sewaktu SMP aku sudah disekolahkan di sekolah Islam yang menharuskan siswanya hidup di asrama jauh dari orangtua. Beranjak SMA dirasa hidup sudah bisa mandiri dan memilih untuk kos, begitupun ketika kuliah. Setelah lulus kulian otomatis akan mencari kerja dan membina rumah tangga dengan keluarga baru. Terus…dan terus sampai orangtuanya sendiri akan terlupakan.

Suatu ketika ayah tanpa sengaja berceletuk “Jika besok aku tua, titipkan saja di panti jompo”. Hal itu langsung memukul perasaan secara keras. Kemudian tanpa sengaja aku melihat iklan komerail thailand yang menceritakan ketulusan cinta ayah kepada anaknya yang sudah menyakiti hatinya, ditambah dengan movie Weding Dress yang menceritakan cinta kasih seorang ibu kepada puteri kesayangannya. Semua itu membuatku mengeluarkan air mata. Aku tidak pernah nangis melihat film selain film itu. Itu karena aku merasa sangat berdosa dan tidak pernah berbakti pada orangtua.

Sampai saat ini aku masih mikir hal apa yang udah aku lakukan untuk membahagiakan mereka? Kapan mereka tersenyum bangga melihat anaknya (aku)?

Jawabannya adalah….orang tua selalu bangga dan bahagia melihat anaknya…

Fine, mungkinkah itu sudah cukup. Apakah kalian merasakan apa yang orangtua selalu rasakan terhadap anaknya? Aku kira belum! Atau mungkin belum sepenuhnya!

Cinta orangtua sepanjang masa, tidak seperti cinta anak kepada orangtuanya.  Mungkin saja ada yang mencitai orangtua sampai peyor, tapi tidak sedikit anak yang meninggalkan mereka ketika punya keluarga baru.

Orangtua selalu memberikan apapun dan mengusahakan apa yang diminta si anak meskipun itu beresiko untuk dirinya, tapi belum tentu anak akan berfikir demikian. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi jika melihat sisi baik orangtua kita masing-masing, karena tidak akan ada habisnya. Semoga semua anak akan tersadar dengan perjuangan orangtua kita melihat anaknya tumbuh sehat dan berkembang.

Jangan pernah berfikir orangtua si A atau si B itu lebih keren dari orangtua mu. Orangtua kita semua keren karena membolehkan kita tumbuh menjadi manusia yang pintar, sehat, dan berkembang.

Semoga kita, apalagi aku bisa membuat orangtua ku bangga dan bahagia karena usahaku. Bukan karena kelakuaku yang bisanya begini begitu saja…

Selamat berpuasa….

Ceramah Ketiga

Assalamualaikum, dari penceramah ceramah ketiga dari bapak Din Samsudin ketika ingin mengawali ceramah seketika itu pula aku langsung tertidur. Hak itu terjadi karena waktu berbuka aku dan Adit, Fanani, dan Itok melakukan buka estafet, seperti orang kalap. Fanani pertama kalinya berbuka di masjid kampus, kemudian melanjutkan dengan kami bertiga makan batagor, dan diakhiri dengan bakso granade yang memajang foto Tika Putri

Sungguh tidak baik dicontoh karena akhirnya kami tidak mampu sholat taraweh dengan maksimal. Tidak pernah salah sabda nabi bahwa makanlah sebelum lapan dam berhentilah sebelum kenyang, karena itu memang untuk kebaikan.

Ceramah Kedua

Malam ini adalah giliran Pak Amin Rais -mantan ketua MPR semasa pemerintahan orde baru- yang mengisi ceramah sholat taraweh di masjid kampus UGM. Beliau menceritakan tentang apa itu perbedaan dan bagaimana kita harus menghadapi dengan bijak perbedaan itu. Meskipun beliau adalah tokoh penting dalam ormas Muhammadiyah, tapi beliau tetap bisa menjaga silaturahmi dengan ormas lain tanpa menjelek-jelekkan mereka.

Dalam khutbahnya, beliau menerangkan isi ayat dalam Quran yang menuatakan bahwa jangan sampai ada seorang golongan laki-laki diantara kalian menrendahkan atau menghina golongan laki-laki lain di luar golongan kalian, atau sekelompok golongan wanita diantara kalian merendahkan sebagian golongan wanita di luar golongan kalian karena semua itu belum tentu benar adanya. Orang yang mungkin engkau rendahkan justru derajatnya lebih tinggi di mata Allah daripada kalian.

Dengan demikian, isi ceramah taraweh malam ini mengenai toleransi dalam hidup bersosial masyarakat. Jangan sampai ada fitnah ataupun merendahkan satu dengan yang lain. Begitulah isi ceramah selama 20 menit dari mantan ketua MPR RI.

Ceramah Pertama

Malam tadi saya mengawali Ramadhan dengan sholat taraweh di masjid kampus UGM. Saya melihat jadwal penceramah, bapak rektor -Prof. Pratikno- yang menjadi penceramah awal di bulan Ramadhan kali ini, tetapi beliau mendadak tidak bisa karena ada salah satu mahasiswanya yang sedang KKN di Sumbawa meninggal dunia karena kecelakaan. Oleh karena itu, penceramah harus digantikan dengan yang lain, yang menggantikannya adalah ustadz Wijayanto.

Saya tidak tahu dengan penceramah kali ini, tetapi saya sungguh shock melihat cara beliau memberikan dakwahnya kepada para jamaat. Ternyata pembawaan beliau sangatlah lucu, dan tak ada seorangpun tertidur ketika beliau mendengarkan berceramah. Sampai-sampai waktu yang berlalu tidak terasa karena penyampaiannya sangat humoris dan mengena.

Beberapa point yang saya tangkap dari hasil ceramah beliau perihal tentang hilal, keaneragaman, dan kurang keharmonisan di Indonesia. Beliau mengatakan dengan gaya guyonnya bahwa di Indonesia tidak akan pernah terjadi kekompakan dengan elemen tersebut antara pengikut NU dan Muhammadiyah karena dua hal; pemerintah yang lemah juga tidak tegas dan kedua ormas tersebut selalu berbeda pendapat tentang penentuan hilal. Perbedaan tersebut diibaratkan oleh beliau seperti hitungan (2+3×5) yang memiliki dua jawaban, yaitu 25 dan 17. Semua jawaban itu benar tergantung dari sudut pandang mana. Begitulah kedua ormas tersebut.

Selain itu, beliau juga mengatakan ibadah puasa dan sholat tahujud adalah 2 ibadah yang tidak memiliki tipu daya dengan teknologi apapun. Hal tersebut digambarkan dengan ibadah sholat yang bisa dipamerkan melalui rekaman video, bacaan yang panjang ketika menjadi imam, dan lain sebagainya. Begitu juga zakat, haji, dan lainnya. Berbeda dengan tahajud dan puasa yang tidak bisa dipamerkan karena tahujud adalah sholat di malam hari dan tidak ada yang bakal mau merekam video maupun pamer bacaan kepada makmum, sedangkan puasa tidak bisa dipamerkan karena ibadah ini tidak terlihat secara kasat mata.

Jadi, apalah yang disampaikan ust. Wijayanto supaya masyarakat lebih bijak menghadapi kebenaran dalam hilal dan keikhlasan beribadah.