Malam tadi saya mengawali Ramadhan dengan sholat taraweh di masjid kampus UGM. Saya melihat jadwal penceramah, bapak rektor -Prof. Pratikno- yang menjadi penceramah awal di bulan Ramadhan kali ini, tetapi beliau mendadak tidak bisa karena ada salah satu mahasiswanya yang sedang KKN di Sumbawa meninggal dunia karena kecelakaan. Oleh karena itu, penceramah harus digantikan dengan yang lain, yang menggantikannya adalah ustadz Wijayanto.

Saya tidak tahu dengan penceramah kali ini, tetapi saya sungguh shock melihat cara beliau memberikan dakwahnya kepada para jamaat. Ternyata pembawaan beliau sangatlah lucu, dan tak ada seorangpun tertidur ketika beliau mendengarkan berceramah. Sampai-sampai waktu yang berlalu tidak terasa karena penyampaiannya sangat humoris dan mengena.

Beberapa point yang saya tangkap dari hasil ceramah beliau perihal tentang hilal, keaneragaman, dan kurang keharmonisan di Indonesia. Beliau mengatakan dengan gaya guyonnya bahwa di Indonesia tidak akan pernah terjadi kekompakan dengan elemen tersebut antara pengikut NU dan Muhammadiyah karena dua hal; pemerintah yang lemah juga tidak tegas dan kedua ormas tersebut selalu berbeda pendapat tentang penentuan hilal. Perbedaan tersebut diibaratkan oleh beliau seperti hitungan (2+3×5) yang memiliki dua jawaban, yaitu 25 dan 17. Semua jawaban itu benar tergantung dari sudut pandang mana. Begitulah kedua ormas tersebut.

Selain itu, beliau juga mengatakan ibadah puasa dan sholat tahujud adalah 2 ibadah yang tidak memiliki tipu daya dengan teknologi apapun. Hal tersebut digambarkan dengan ibadah sholat yang bisa dipamerkan melalui rekaman video, bacaan yang panjang ketika menjadi imam, dan lain sebagainya. Begitu juga zakat, haji, dan lainnya. Berbeda dengan tahajud dan puasa yang tidak bisa dipamerkan karena tahujud adalah sholat di malam hari dan tidak ada yang bakal mau merekam video maupun pamer bacaan kepada makmum, sedangkan puasa tidak bisa dipamerkan karena ibadah ini tidak terlihat secara kasat mata.

Jadi, apalah yang disampaikan ust. Wijayanto supaya masyarakat lebih bijak menghadapi kebenaran dalam hilal dan keikhlasan beribadah.