Acara 1000 ways to die adalah awalku berusaha mengerjakan ibadah secara maksimal. Secara tidak sengaja aku melihat acara di Indovision yang menyiarkan acara tersebut. Sungguh sangat sulit dipercaya tetapi bemar adanya. Ditampilkan dalam acara tersebut bagaimana kematian beberapa orang dengan mudahnya dan dalam berbagai bentuk yang berbeda. Tidak pandang waktu, umur, keadaan, atau apapun. Kematian yang sudah ditakdirkan Allah tidak bisa dipungkiri manusia.

Melihat beberapa rekaman di movie itu membuatku mendadak berfikir bagaimana jika hal itu terjadi padaku. Ketika berjalan mendadak mati. Innalillahi wa innailaihi rojiun, sesungguhnya semua yang diciptakan oleh Allah akan kembali pada Allah. Sungguh sangat mengerikan jika dalam keadaan lali beribadah kemudian sudah mendapat panggilan yang kuasa. Naudzubillah…

Aku merasa beruntung karena masih bisa sadar di bulan ramadan tahun ini. Kadang terfikir olehku jika ditimbang pahala dan dosanya, saya sangat yakin sebagai manusia kalau saya akan masuk neraka dengan semua kesalahanku yang ada. Bahkan, dosaku itu bisa jadi jauh lebih parah diantara teman-teman sekitarku. Sangat berutunglah aku yang saat ini berada di kalangan orang-orang baik.

Aku menjadi berfikir tentangku dahulu dan teman-teman yang belum sepenuhnya menyadari perlunya ibadah. @sadewaizat sempat mengatakan kepada salah seorang teman ketika mengobrol “ayo ibadah, gak usah sok atheis. Sudah bukan zamannya lagi sok jahat dan tidak ibadah itu keren”.

Perkataanya sungguh sangat simpel tapi dalam. Aku dulu berfikir tidak begitu peduli dengan ibadah karena faktor teman dan agar terlihat keren. Maklum, anak muda tidak sedikit yang suka melakukan perlawanan. Tapi menurutku itu adalah hal konyol. Melawan Tuhan? What’s that?

Melawan Tuhan demi dianggap gaul dan tidak kuper!

Stereotiping masyarakat muda tentang anak muda yang alim itu kuper adalah salah. Dan saya menyesali hal itu semua. Memilih pergaulan dengan teman daripada bergaul dengan Tuhan. Meskipun ada ayat sangqt terkenal yang menyabutkan antara hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia itu harus ballance, tapi masih banyak yang belum sadar kalau hubungan mereka lebih ke manusia daripada Tuhannya. Parahnya lagi, ayat itu dijadikan tameng untuk peduli sesama meskipun pada dasarnya itu tidak ada kebaikan di dalamnya.

Ramadan ini aku berharap para pemuda yang masih melawan Tuhan dengan berbagai cara agar supaya bisa sadar. Setidaknya lebih memahami apa yang sudah mereka ketahui.