Archive for August, 2013


Malas Dengan Perkumpulan

Perkumpulan adalah kegiatan yang paling digemari oleh masyarakat Indonesia dari masa pra sejarah sampai masa teknologi android, iphone, dan blackberry yang merambah saat ini. Zaman dahulu adanya perkumpulan bertujuan untuk mencari makan. Berburu dan bercocok tanam. Tidak beda jauh dengan perkumpulan saat ini yang bertujuan untuk berburu dan mencari keuntungan untuk pribadi dan anggotanya. Oleh karena itu, tidak heran jika masyarakat Indonesia disebut sebagai masyarakat gotong royong.

Tidak tahu dahulu, apa yang terjadi sekarang?

Negara Indonesia yang senantiasa mempertahankan identitas diri sebagai negara berkembang ini diwarnai oleh banyak perkumpulan masyarakat. Sampai pada pegangan bangsa ini adalah Pancasila. Yang dibuat berdasarkan asas gotong royong oleh Sang Proklamator.

Memang, gotong royong adalah suatu tindakan yang baik untuk menjalani hidup bermasyarakat. Yang susah ditolong, yang senang dibagi antar sesama. Tapi itu tradisI para simbah kita dahulu. Zaman sekarang beda lagi!

Hasil dari pengamatanku, gotong royong saat ini sudah beralih fungsi menjadi sebuah alat untuk mencari keuntungan individu. Esensi gotong royong nya memang masih ada, tapi melenceng ke arah timbal balik akan sebuah nilai untuk untuk suatu perkumpulan. Aku contohkan sebuah partai politik. Sistem partai politik semuanya gotong royong, bahu membahu untuk mewujudkan ideologi partai demi memperbaiki negara. Tujuan awalnya. Faktanya, partai yang muncul saat ini banyak sekali, jadi menimbulkan adanya ideologi partai yang beraneka ragam untuk memajukan bangsa ini. Hebat sekali.

Masalahnya, antar partai yang bertujuan untuk membangun bangsa itu punya cara dan anggota masing-masing yang menjadikan sebuah perkumpulan pada partai itu makin kokoh. Sampai kokohnya mereka lupa jika tujuan partaI-partai itu untuk memperbaiki negara, sehingga mereka kekeuh dengan tujuan masing-masing yang berujung saling menjatuhkan demi kursi kepemimpinan. Mereka berfikir kalau bisa memimpin negara otomatis mereka bisa mengubah negara menjadi lebih baik sesuai ideologi partai.

Pertanyaannya, apakah tolok ukur kebenaran dari ideologi partai itu untuk kemajuan negara?

Tidak ada!

Ketidakadaan tolok ukur kebenaran itu berujung menjadi sebuah perkumpulan orang dalam partai untuk saling menjatuhkan satu sama lain dan merebut tahta kepemimpinan untuk menciptakan idealitas suatu negara menurut ideologinya. Sistem seperti itu kemudian merambah kemana-mana hingga sampai ke perkumpulan dalam LSM, ORMAS, bahkan kumpulan RT. Mereka saling mementingkan diri sendiri sampai lupa esensi awal gotong royong,  bahu membahu mencari kesejahteraan bersama.

Degradasi moral bangsa mulai terkikis disini. Kemanusiaan hanya sebutan untuk mengalihkan kesalahan demi kesalahan yang sudah dibuat. Bukan lagi sebagai tujuan utama berdirinya suatu perkumpulan itu. Bahkan parahnya lagi. Persaingan untuk mendapatkan sesuatu harus melalui sistem seperti ini. Dalam artiku, ketika kamu ingin merambah dunia yang kamu inginkan, kamu harus bergabung dengan kumpulan yang ada di dunia itu. Ketika kamu dari kumpulan yang lain, punah sudah harapanmu. Bahasa gaulnya kolusi dan nepotisme.

Jadi….? ……pikirin sendiri……

Advertisements

Angin Jakarta

Jakarta merupakan pusat kebudayaan kalau saya bilang. Kota segala umat Indonesia saat ini. Sentral dari Indonesia. Penuh bangunan, sesak penduduk, tingkat polusi tinggi, kemacetan dimana mana, bahkan untuk air mengalir saja harus antri. Banjir dan genangan. Tapi bukan hal yang abnormal, namanya saja sentral Indonesia.  Sentral dari perkembangan teknologi mauoun informasi sampai sentralnya sampah -sampah masyarakat, sampah visual, atau sampah dalam artian sebenarnya.

Banyak masyarakat dengan pendidikan dan intelektual seadanya tergiur oleh angin Jakarta. Berharap mereka bisa mendapatkan angin di sana. Angin adalah sumber utama kehidupan untuk manusia. Mereka mencari angin di Jakarta dengan maksud memperbaiki nasib di ibukota. Semua berfikir demikian. Iming iming dari para pencari angin sebelumnya terlihat sukses di Jakarta. Adapula yang pura pura sukses karena faktor gengsi dengan tetangga.

Masyarakat berbondong-bondong dengan penuh harapan dan impian yang diberikan Jakarta. Banyak lahan pekerjaan, gaji gede, metropolitan, gahul, bahkan bisa jadi artis -bagi yang kebanjiran maupun kena gusur. Itulah mimpi-mimpi di Jakarta.  Penuh dengan keambiguan dan tipu daya bagi sebagian orang, terutama orang yang kurang berpendidikan. Rela meninggalkan lahan pertaniannya yang subur demi melihat kota Monas.

Namun, tidak sedikit teman-teman sarjana yang memiliki intelektualitas tinggi juga ingin bekerja di Jakarta. Atas dasar prestise. Atau pengalaman. Seorang fresh graduate yang katanya seorang agen of change sewaktu masih kuliah akhirnya juga mencari angin di kota itu. Pertanyaannya, apakah masih ada cukup angin untuk dihirup di kota itu? Atau tinggal sisa karbondioksida dari penghirup angin di sana? Semua akan terjawab kalau sudah di merasakan hidup di Jakarta.

Mimpi yang digambarkan oleh Jakarta memang tidak ada tandingannya. Sebagai seorang fresh graduate pun aku merasa terbuai oleh mimpi itu. Jiwa muda yang masih bersemangat mengalir darah yang hangat untuk para nyamuk Jakarta. Para nyamuk itu tahu ada darah yang akan mengalir di Jakarta sehigga mereka juga akan senang hatI menyambutnya.

Para nyamuk Jakarta juga akan dengan senang hati menghisap darah-darah segar dari berbagai kota maupun desa. Tinggal menunggu apakah darah-darah baru akan bisa bertahan jika darahnya dihisap oleh si nyamuk.

Dewasa ini pendidikan Indonesia dihebohkan oleh kurikulum baru, kurikulum 2013. Dalam kebijakannya, dia lebih menekankan pada sebuah pendidikan moralitas dan keagamaan, katanya. Semua yang berbau dengan pelajaran keagamaan dan pendidikan moral lebih diperbanyak daripada pelajaran-pelajaran yang lainnya. Selain itu, untuk SMA. Siswa ajaran baru langsung diminta untuk memilih penjurusan sesuai dengan minat dan bakatnya. Demikian info yang terdengar di telinga saya.

Kebetulan aku ikut ukm pers mahasiswa dulu, dan sekarang sudah alumni. Tapi, masih eksis di group mereka untuk sekedar say hello maupun bercengkrama dengan sembari mbribik meskipun hanya bercanda. Sebenarnya pokok masalah aku mengupload tulisan ini bukan untuk memberitahukan siapa bribikanku atau obrolan apa dalam group itu atau mungkin kenapa aku masih join di group itu.

Aku cuma sedikit tertarik dengan pembahasan mereka mengenai pendidikan di Indonesia saat ini yang lagi gemar gonta ganti kurikulum. Lumrah. Udah sama kaya ganti baju. Biar gak bau.

Sebenarnya adik sepupuku juga baru masuk SMA tahun ajaran 2013 ini. Dia juga diperlakukan sama oleh kurikulum, dan dia rela-rela saja. Wong yo bocah diapusI ora ngerti. Kebijakan kurikulum 2013 ini menurut beberapa teman di group sebagai salah satu bentuk penipuan juga penindasan karena mereka menganggap sama aja anak baru lulus SMP sudah diharuskan memutuskan masa depannya. Ya, mereka berdialog demikian berdasarkan pengalaman masuk kuliah dulu. Ada benarnya juga, tapi gak benar juga. Beberapa sebagian yang lain menganggap kalau Menteri Pendidikan bapak yang terhormat M.Nuh sudah memikirkan hal itu dengan matang, jadi setuju-setuju saja karena mereka beranggapan mereka dipilih rakyat maka dia akan mengabdi untuk rakyat.

Nah, sekarang nek aku. Tidak akan aku bilang itu salah itu benar atau aku ikut pemerintah dst. Salah dan benar itu menurutku hanya sebatas pertukaran ruang. Benar yang dianggap pada suatu realita bisa saja hanya kesalahan, dan salah yang ada pada realita bisa jadi suatu kebenaran yang tidak mendapati ruang. Seperti manusia apakah akan tinggi setelah merendahkan orang lain, juga sebaliknya manusia akan rendah setelah meninggikan orang lain. Dan, aku juga tidak bisa asal manut karena aku gak pernah memilih menteri dan aku juga tak punya kuasa atas menteri. Njuk aku ngapa? Ya, terserah aku aja jawabku…

Tapi kalau dilihat dari tujuannya nih, untuk mendidik moralitas dalam pendidikan di Indonesia. Itu yang akan aku masalahkan. Moralitas sendiri merupakan sebuah jalan kehidupan yang seirama antara makrokosmos dan mikrokosmos, manusia dan alam. Dalam kacamata agama, hiduo sejalan dengan kebaikan seluruh umat berlandaskan kitab suci. Sedangkan apa yang terjadi saat ini? Mungkinkan moralitas akan tertanam dalam setiap jiwa-jiwa calon penerus bangsa melalui sistem seperti itu. Tidak!

Aku mengatakan tidak karena primordial dalam sistem itu sudah mengharuskan tindakan amoral. Amoral terhadap alam, sistem kosmos, dan humanisme nya. Persaingan dalam pencarian sekolah yang mengguanakan sistem terbaik dan terburuk sudah menunjukkan tindakan yang kurang mempedulikan moral. Saling sikut-sikutan antar orangtua murid agar anaknya bisa diterima di SMA 1 2 3 4 dan seterusnya, sampai mereka membohongi satu dengan yang lain kalau quota SMA 1 2 3 4 ini sudah penuh, dan sebagainya. Itu baru orangtua murid. Siswanya demi nasionalisme dan satu kesatuan dalam pertemanan mereka melegalkan mencontek dalam ujian tes dan ujian-ujian yang lainnya. Lalu hal itu pendidikam moral atau simulasi korupsi?

Yah, apalah aku ini. Tidak bisa ikut andil dalam keputusan, dan tidak mau turun ke lapangan untuk memprotes sistem itu. Aku hanyalah aku. Aku punya cara kamu punya cara. Jangan sampai perbedaan pendapat diantara kita juga menimbulkan tindakan tidak bermoral. Nanti ndak ada kurikulum lagi. Biarkan lewat tulisan pikiranku terlepas. Silahkan lepaskan juga suaramu pada mereka jika mau. Mari merefleksikan diri kita sebagai orang yang peduli dengan bansa Indonesia dengan caranya masing-masing.