Jakarta merupakan pusat kebudayaan kalau saya bilang. Kota segala umat Indonesia saat ini. Sentral dari Indonesia. Penuh bangunan, sesak penduduk, tingkat polusi tinggi, kemacetan dimana mana, bahkan untuk air mengalir saja harus antri. Banjir dan genangan. Tapi bukan hal yang abnormal, namanya saja sentral Indonesia.  Sentral dari perkembangan teknologi mauoun informasi sampai sentralnya sampah -sampah masyarakat, sampah visual, atau sampah dalam artian sebenarnya.

Banyak masyarakat dengan pendidikan dan intelektual seadanya tergiur oleh angin Jakarta. Berharap mereka bisa mendapatkan angin di sana. Angin adalah sumber utama kehidupan untuk manusia. Mereka mencari angin di Jakarta dengan maksud memperbaiki nasib di ibukota. Semua berfikir demikian. Iming iming dari para pencari angin sebelumnya terlihat sukses di Jakarta. Adapula yang pura pura sukses karena faktor gengsi dengan tetangga.

Masyarakat berbondong-bondong dengan penuh harapan dan impian yang diberikan Jakarta. Banyak lahan pekerjaan, gaji gede, metropolitan, gahul, bahkan bisa jadi artis -bagi yang kebanjiran maupun kena gusur. Itulah mimpi-mimpi di Jakarta.  Penuh dengan keambiguan dan tipu daya bagi sebagian orang, terutama orang yang kurang berpendidikan. Rela meninggalkan lahan pertaniannya yang subur demi melihat kota Monas.

Namun, tidak sedikit teman-teman sarjana yang memiliki intelektualitas tinggi juga ingin bekerja di Jakarta. Atas dasar prestise. Atau pengalaman. Seorang fresh graduate yang katanya seorang agen of change sewaktu masih kuliah akhirnya juga mencari angin di kota itu. Pertanyaannya, apakah masih ada cukup angin untuk dihirup di kota itu? Atau tinggal sisa karbondioksida dari penghirup angin di sana? Semua akan terjawab kalau sudah di merasakan hidup di Jakarta.

Mimpi yang digambarkan oleh Jakarta memang tidak ada tandingannya. Sebagai seorang fresh graduate pun aku merasa terbuai oleh mimpi itu. Jiwa muda yang masih bersemangat mengalir darah yang hangat untuk para nyamuk Jakarta. Para nyamuk itu tahu ada darah yang akan mengalir di Jakarta sehigga mereka juga akan senang hatI menyambutnya.

Para nyamuk Jakarta juga akan dengan senang hati menghisap darah-darah segar dari berbagai kota maupun desa. Tinggal menunggu apakah darah-darah baru akan bisa bertahan jika darahnya dihisap oleh si nyamuk.