Dewasa ini pendidikan Indonesia dihebohkan oleh kurikulum baru, kurikulum 2013. Dalam kebijakannya, dia lebih menekankan pada sebuah pendidikan moralitas dan keagamaan, katanya. Semua yang berbau dengan pelajaran keagamaan dan pendidikan moral lebih diperbanyak daripada pelajaran-pelajaran yang lainnya. Selain itu, untuk SMA. Siswa ajaran baru langsung diminta untuk memilih penjurusan sesuai dengan minat dan bakatnya. Demikian info yang terdengar di telinga saya.

Kebetulan aku ikut ukm pers mahasiswa dulu, dan sekarang sudah alumni. Tapi, masih eksis di group mereka untuk sekedar say hello maupun bercengkrama dengan sembari mbribik meskipun hanya bercanda. Sebenarnya pokok masalah aku mengupload tulisan ini bukan untuk memberitahukan siapa bribikanku atau obrolan apa dalam group itu atau mungkin kenapa aku masih join di group itu.

Aku cuma sedikit tertarik dengan pembahasan mereka mengenai pendidikan di Indonesia saat ini yang lagi gemar gonta ganti kurikulum. Lumrah. Udah sama kaya ganti baju. Biar gak bau.

Sebenarnya adik sepupuku juga baru masuk SMA tahun ajaran 2013 ini. Dia juga diperlakukan sama oleh kurikulum, dan dia rela-rela saja. Wong yo bocah diapusI ora ngerti. Kebijakan kurikulum 2013 ini menurut beberapa teman di group sebagai salah satu bentuk penipuan juga penindasan karena mereka menganggap sama aja anak baru lulus SMP sudah diharuskan memutuskan masa depannya. Ya, mereka berdialog demikian berdasarkan pengalaman masuk kuliah dulu. Ada benarnya juga, tapi gak benar juga. Beberapa sebagian yang lain menganggap kalau Menteri Pendidikan bapak yang terhormat M.Nuh sudah memikirkan hal itu dengan matang, jadi setuju-setuju saja karena mereka beranggapan mereka dipilih rakyat maka dia akan mengabdi untuk rakyat.

Nah, sekarang nek aku. Tidak akan aku bilang itu salah itu benar atau aku ikut pemerintah dst. Salah dan benar itu menurutku hanya sebatas pertukaran ruang. Benar yang dianggap pada suatu realita bisa saja hanya kesalahan, dan salah yang ada pada realita bisa jadi suatu kebenaran yang tidak mendapati ruang. Seperti manusia apakah akan tinggi setelah merendahkan orang lain, juga sebaliknya manusia akan rendah setelah meninggikan orang lain. Dan, aku juga tidak bisa asal manut karena aku gak pernah memilih menteri dan aku juga tak punya kuasa atas menteri. Njuk aku ngapa? Ya, terserah aku aja jawabku…

Tapi kalau dilihat dari tujuannya nih, untuk mendidik moralitas dalam pendidikan di Indonesia. Itu yang akan aku masalahkan. Moralitas sendiri merupakan sebuah jalan kehidupan yang seirama antara makrokosmos dan mikrokosmos, manusia dan alam. Dalam kacamata agama, hiduo sejalan dengan kebaikan seluruh umat berlandaskan kitab suci. Sedangkan apa yang terjadi saat ini? Mungkinkan moralitas akan tertanam dalam setiap jiwa-jiwa calon penerus bangsa melalui sistem seperti itu. Tidak!

Aku mengatakan tidak karena primordial dalam sistem itu sudah mengharuskan tindakan amoral. Amoral terhadap alam, sistem kosmos, dan humanisme nya. Persaingan dalam pencarian sekolah yang mengguanakan sistem terbaik dan terburuk sudah menunjukkan tindakan yang kurang mempedulikan moral. Saling sikut-sikutan antar orangtua murid agar anaknya bisa diterima di SMA 1 2 3 4 dan seterusnya, sampai mereka membohongi satu dengan yang lain kalau quota SMA 1 2 3 4 ini sudah penuh, dan sebagainya. Itu baru orangtua murid. Siswanya demi nasionalisme dan satu kesatuan dalam pertemanan mereka melegalkan mencontek dalam ujian tes dan ujian-ujian yang lainnya. Lalu hal itu pendidikam moral atau simulasi korupsi?

Yah, apalah aku ini. Tidak bisa ikut andil dalam keputusan, dan tidak mau turun ke lapangan untuk memprotes sistem itu. Aku hanyalah aku. Aku punya cara kamu punya cara. Jangan sampai perbedaan pendapat diantara kita juga menimbulkan tindakan tidak bermoral. Nanti ndak ada kurikulum lagi. Biarkan lewat tulisan pikiranku terlepas. Silahkan lepaskan juga suaramu pada mereka jika mau. Mari merefleksikan diri kita sebagai orang yang peduli dengan bansa Indonesia dengan caranya masing-masing.