Perkumpulan adalah kegiatan yang paling digemari oleh masyarakat Indonesia dari masa pra sejarah sampai masa teknologi android, iphone, dan blackberry yang merambah saat ini. Zaman dahulu adanya perkumpulan bertujuan untuk mencari makan. Berburu dan bercocok tanam. Tidak beda jauh dengan perkumpulan saat ini yang bertujuan untuk berburu dan mencari keuntungan untuk pribadi dan anggotanya. Oleh karena itu, tidak heran jika masyarakat Indonesia disebut sebagai masyarakat gotong royong.

Tidak tahu dahulu, apa yang terjadi sekarang?

Negara Indonesia yang senantiasa mempertahankan identitas diri sebagai negara berkembang ini diwarnai oleh banyak perkumpulan masyarakat. Sampai pada pegangan bangsa ini adalah Pancasila. Yang dibuat berdasarkan asas gotong royong oleh Sang Proklamator.

Memang, gotong royong adalah suatu tindakan yang baik untuk menjalani hidup bermasyarakat. Yang susah ditolong, yang senang dibagi antar sesama. Tapi itu tradisI para simbah kita dahulu. Zaman sekarang beda lagi!

Hasil dari pengamatanku, gotong royong saat ini sudah beralih fungsi menjadi sebuah alat untuk mencari keuntungan individu. Esensi gotong royong nya memang masih ada, tapi melenceng ke arah timbal balik akan sebuah nilai untuk untuk suatu perkumpulan. Aku contohkan sebuah partai politik. Sistem partai politik semuanya gotong royong, bahu membahu untuk mewujudkan ideologi partai demi memperbaiki negara. Tujuan awalnya. Faktanya, partai yang muncul saat ini banyak sekali, jadi menimbulkan adanya ideologi partai yang beraneka ragam untuk memajukan bangsa ini. Hebat sekali.

Masalahnya, antar partai yang bertujuan untuk membangun bangsa itu punya cara dan anggota masing-masing yang menjadikan sebuah perkumpulan pada partai itu makin kokoh. Sampai kokohnya mereka lupa jika tujuan partaI-partai itu untuk memperbaiki negara, sehingga mereka kekeuh dengan tujuan masing-masing yang berujung saling menjatuhkan demi kursi kepemimpinan. Mereka berfikir kalau bisa memimpin negara otomatis mereka bisa mengubah negara menjadi lebih baik sesuai ideologi partai.

Pertanyaannya, apakah tolok ukur kebenaran dari ideologi partai itu untuk kemajuan negara?

Tidak ada!

Ketidakadaan tolok ukur kebenaran itu berujung menjadi sebuah perkumpulan orang dalam partai untuk saling menjatuhkan satu sama lain dan merebut tahta kepemimpinan untuk menciptakan idealitas suatu negara menurut ideologinya. Sistem seperti itu kemudian merambah kemana-mana hingga sampai ke perkumpulan dalam LSM, ORMAS, bahkan kumpulan RT. Mereka saling mementingkan diri sendiri sampai lupa esensi awal gotong royong,  bahu membahu mencari kesejahteraan bersama.

Degradasi moral bangsa mulai terkikis disini. Kemanusiaan hanya sebutan untuk mengalihkan kesalahan demi kesalahan yang sudah dibuat. Bukan lagi sebagai tujuan utama berdirinya suatu perkumpulan itu. Bahkan parahnya lagi. Persaingan untuk mendapatkan sesuatu harus melalui sistem seperti ini. Dalam artiku, ketika kamu ingin merambah dunia yang kamu inginkan, kamu harus bergabung dengan kumpulan yang ada di dunia itu. Ketika kamu dari kumpulan yang lain, punah sudah harapanmu. Bahasa gaulnya kolusi dan nepotisme.

Jadi….? ……pikirin sendiri……