Latest Entries »

Malas Dengan Perkumpulan

Perkumpulan adalah kegiatan yang paling digemari oleh masyarakat Indonesia dari masa pra sejarah sampai masa teknologi android, iphone, dan blackberry yang merambah saat ini. Zaman dahulu adanya perkumpulan bertujuan untuk mencari makan. Berburu dan bercocok tanam. Tidak beda jauh dengan perkumpulan saat ini yang bertujuan untuk berburu dan mencari keuntungan untuk pribadi dan anggotanya. Oleh karena itu, tidak heran jika masyarakat Indonesia disebut sebagai masyarakat gotong royong.

Tidak tahu dahulu, apa yang terjadi sekarang?

Negara Indonesia yang senantiasa mempertahankan identitas diri sebagai negara berkembang ini diwarnai oleh banyak perkumpulan masyarakat. Sampai pada pegangan bangsa ini adalah Pancasila. Yang dibuat berdasarkan asas gotong royong oleh Sang Proklamator.

Memang, gotong royong adalah suatu tindakan yang baik untuk menjalani hidup bermasyarakat. Yang susah ditolong, yang senang dibagi antar sesama. Tapi itu tradisI para simbah kita dahulu. Zaman sekarang beda lagi!

Hasil dari pengamatanku, gotong royong saat ini sudah beralih fungsi menjadi sebuah alat untuk mencari keuntungan individu. Esensi gotong royong nya memang masih ada, tapi melenceng ke arah timbal balik akan sebuah nilai untuk untuk suatu perkumpulan. Aku contohkan sebuah partai politik. Sistem partai politik semuanya gotong royong, bahu membahu untuk mewujudkan ideologi partai demi memperbaiki negara. Tujuan awalnya. Faktanya, partai yang muncul saat ini banyak sekali, jadi menimbulkan adanya ideologi partai yang beraneka ragam untuk memajukan bangsa ini. Hebat sekali.

Masalahnya, antar partai yang bertujuan untuk membangun bangsa itu punya cara dan anggota masing-masing yang menjadikan sebuah perkumpulan pada partai itu makin kokoh. Sampai kokohnya mereka lupa jika tujuan partaI-partai itu untuk memperbaiki negara, sehingga mereka kekeuh dengan tujuan masing-masing yang berujung saling menjatuhkan demi kursi kepemimpinan. Mereka berfikir kalau bisa memimpin negara otomatis mereka bisa mengubah negara menjadi lebih baik sesuai ideologi partai.

Pertanyaannya, apakah tolok ukur kebenaran dari ideologi partai itu untuk kemajuan negara?

Tidak ada!

Ketidakadaan tolok ukur kebenaran itu berujung menjadi sebuah perkumpulan orang dalam partai untuk saling menjatuhkan satu sama lain dan merebut tahta kepemimpinan untuk menciptakan idealitas suatu negara menurut ideologinya. Sistem seperti itu kemudian merambah kemana-mana hingga sampai ke perkumpulan dalam LSM, ORMAS, bahkan kumpulan RT. Mereka saling mementingkan diri sendiri sampai lupa esensi awal gotong royong,  bahu membahu mencari kesejahteraan bersama.

Degradasi moral bangsa mulai terkikis disini. Kemanusiaan hanya sebutan untuk mengalihkan kesalahan demi kesalahan yang sudah dibuat. Bukan lagi sebagai tujuan utama berdirinya suatu perkumpulan itu. Bahkan parahnya lagi. Persaingan untuk mendapatkan sesuatu harus melalui sistem seperti ini. Dalam artiku, ketika kamu ingin merambah dunia yang kamu inginkan, kamu harus bergabung dengan kumpulan yang ada di dunia itu. Ketika kamu dari kumpulan yang lain, punah sudah harapanmu. Bahasa gaulnya kolusi dan nepotisme.

Jadi….? ……pikirin sendiri……

Advertisements

Angin Jakarta

Jakarta merupakan pusat kebudayaan kalau saya bilang. Kota segala umat Indonesia saat ini. Sentral dari Indonesia. Penuh bangunan, sesak penduduk, tingkat polusi tinggi, kemacetan dimana mana, bahkan untuk air mengalir saja harus antri. Banjir dan genangan. Tapi bukan hal yang abnormal, namanya saja sentral Indonesia.  Sentral dari perkembangan teknologi mauoun informasi sampai sentralnya sampah -sampah masyarakat, sampah visual, atau sampah dalam artian sebenarnya.

Banyak masyarakat dengan pendidikan dan intelektual seadanya tergiur oleh angin Jakarta. Berharap mereka bisa mendapatkan angin di sana. Angin adalah sumber utama kehidupan untuk manusia. Mereka mencari angin di Jakarta dengan maksud memperbaiki nasib di ibukota. Semua berfikir demikian. Iming iming dari para pencari angin sebelumnya terlihat sukses di Jakarta. Adapula yang pura pura sukses karena faktor gengsi dengan tetangga.

Masyarakat berbondong-bondong dengan penuh harapan dan impian yang diberikan Jakarta. Banyak lahan pekerjaan, gaji gede, metropolitan, gahul, bahkan bisa jadi artis -bagi yang kebanjiran maupun kena gusur. Itulah mimpi-mimpi di Jakarta.  Penuh dengan keambiguan dan tipu daya bagi sebagian orang, terutama orang yang kurang berpendidikan. Rela meninggalkan lahan pertaniannya yang subur demi melihat kota Monas.

Namun, tidak sedikit teman-teman sarjana yang memiliki intelektualitas tinggi juga ingin bekerja di Jakarta. Atas dasar prestise. Atau pengalaman. Seorang fresh graduate yang katanya seorang agen of change sewaktu masih kuliah akhirnya juga mencari angin di kota itu. Pertanyaannya, apakah masih ada cukup angin untuk dihirup di kota itu? Atau tinggal sisa karbondioksida dari penghirup angin di sana? Semua akan terjawab kalau sudah di merasakan hidup di Jakarta.

Mimpi yang digambarkan oleh Jakarta memang tidak ada tandingannya. Sebagai seorang fresh graduate pun aku merasa terbuai oleh mimpi itu. Jiwa muda yang masih bersemangat mengalir darah yang hangat untuk para nyamuk Jakarta. Para nyamuk itu tahu ada darah yang akan mengalir di Jakarta sehigga mereka juga akan senang hatI menyambutnya.

Para nyamuk Jakarta juga akan dengan senang hati menghisap darah-darah segar dari berbagai kota maupun desa. Tinggal menunggu apakah darah-darah baru akan bisa bertahan jika darahnya dihisap oleh si nyamuk.

Dewasa ini pendidikan Indonesia dihebohkan oleh kurikulum baru, kurikulum 2013. Dalam kebijakannya, dia lebih menekankan pada sebuah pendidikan moralitas dan keagamaan, katanya. Semua yang berbau dengan pelajaran keagamaan dan pendidikan moral lebih diperbanyak daripada pelajaran-pelajaran yang lainnya. Selain itu, untuk SMA. Siswa ajaran baru langsung diminta untuk memilih penjurusan sesuai dengan minat dan bakatnya. Demikian info yang terdengar di telinga saya.

Kebetulan aku ikut ukm pers mahasiswa dulu, dan sekarang sudah alumni. Tapi, masih eksis di group mereka untuk sekedar say hello maupun bercengkrama dengan sembari mbribik meskipun hanya bercanda. Sebenarnya pokok masalah aku mengupload tulisan ini bukan untuk memberitahukan siapa bribikanku atau obrolan apa dalam group itu atau mungkin kenapa aku masih join di group itu.

Aku cuma sedikit tertarik dengan pembahasan mereka mengenai pendidikan di Indonesia saat ini yang lagi gemar gonta ganti kurikulum. Lumrah. Udah sama kaya ganti baju. Biar gak bau.

Sebenarnya adik sepupuku juga baru masuk SMA tahun ajaran 2013 ini. Dia juga diperlakukan sama oleh kurikulum, dan dia rela-rela saja. Wong yo bocah diapusI ora ngerti. Kebijakan kurikulum 2013 ini menurut beberapa teman di group sebagai salah satu bentuk penipuan juga penindasan karena mereka menganggap sama aja anak baru lulus SMP sudah diharuskan memutuskan masa depannya. Ya, mereka berdialog demikian berdasarkan pengalaman masuk kuliah dulu. Ada benarnya juga, tapi gak benar juga. Beberapa sebagian yang lain menganggap kalau Menteri Pendidikan bapak yang terhormat M.Nuh sudah memikirkan hal itu dengan matang, jadi setuju-setuju saja karena mereka beranggapan mereka dipilih rakyat maka dia akan mengabdi untuk rakyat.

Nah, sekarang nek aku. Tidak akan aku bilang itu salah itu benar atau aku ikut pemerintah dst. Salah dan benar itu menurutku hanya sebatas pertukaran ruang. Benar yang dianggap pada suatu realita bisa saja hanya kesalahan, dan salah yang ada pada realita bisa jadi suatu kebenaran yang tidak mendapati ruang. Seperti manusia apakah akan tinggi setelah merendahkan orang lain, juga sebaliknya manusia akan rendah setelah meninggikan orang lain. Dan, aku juga tidak bisa asal manut karena aku gak pernah memilih menteri dan aku juga tak punya kuasa atas menteri. Njuk aku ngapa? Ya, terserah aku aja jawabku…

Tapi kalau dilihat dari tujuannya nih, untuk mendidik moralitas dalam pendidikan di Indonesia. Itu yang akan aku masalahkan. Moralitas sendiri merupakan sebuah jalan kehidupan yang seirama antara makrokosmos dan mikrokosmos, manusia dan alam. Dalam kacamata agama, hiduo sejalan dengan kebaikan seluruh umat berlandaskan kitab suci. Sedangkan apa yang terjadi saat ini? Mungkinkan moralitas akan tertanam dalam setiap jiwa-jiwa calon penerus bangsa melalui sistem seperti itu. Tidak!

Aku mengatakan tidak karena primordial dalam sistem itu sudah mengharuskan tindakan amoral. Amoral terhadap alam, sistem kosmos, dan humanisme nya. Persaingan dalam pencarian sekolah yang mengguanakan sistem terbaik dan terburuk sudah menunjukkan tindakan yang kurang mempedulikan moral. Saling sikut-sikutan antar orangtua murid agar anaknya bisa diterima di SMA 1 2 3 4 dan seterusnya, sampai mereka membohongi satu dengan yang lain kalau quota SMA 1 2 3 4 ini sudah penuh, dan sebagainya. Itu baru orangtua murid. Siswanya demi nasionalisme dan satu kesatuan dalam pertemanan mereka melegalkan mencontek dalam ujian tes dan ujian-ujian yang lainnya. Lalu hal itu pendidikam moral atau simulasi korupsi?

Yah, apalah aku ini. Tidak bisa ikut andil dalam keputusan, dan tidak mau turun ke lapangan untuk memprotes sistem itu. Aku hanyalah aku. Aku punya cara kamu punya cara. Jangan sampai perbedaan pendapat diantara kita juga menimbulkan tindakan tidak bermoral. Nanti ndak ada kurikulum lagi. Biarkan lewat tulisan pikiranku terlepas. Silahkan lepaskan juga suaramu pada mereka jika mau. Mari merefleksikan diri kita sebagai orang yang peduli dengan bansa Indonesia dengan caranya masing-masing.

Tabiat: Melawan Tuhan

Acara 1000 ways to die adalah awalku berusaha mengerjakan ibadah secara maksimal. Secara tidak sengaja aku melihat acara di Indovision yang menyiarkan acara tersebut. Sungguh sangat sulit dipercaya tetapi bemar adanya. Ditampilkan dalam acara tersebut bagaimana kematian beberapa orang dengan mudahnya dan dalam berbagai bentuk yang berbeda. Tidak pandang waktu, umur, keadaan, atau apapun. Kematian yang sudah ditakdirkan Allah tidak bisa dipungkiri manusia.

Melihat beberapa rekaman di movie itu membuatku mendadak berfikir bagaimana jika hal itu terjadi padaku. Ketika berjalan mendadak mati. Innalillahi wa innailaihi rojiun, sesungguhnya semua yang diciptakan oleh Allah akan kembali pada Allah. Sungguh sangat mengerikan jika dalam keadaan lali beribadah kemudian sudah mendapat panggilan yang kuasa. Naudzubillah…

Aku merasa beruntung karena masih bisa sadar di bulan ramadan tahun ini. Kadang terfikir olehku jika ditimbang pahala dan dosanya, saya sangat yakin sebagai manusia kalau saya akan masuk neraka dengan semua kesalahanku yang ada. Bahkan, dosaku itu bisa jadi jauh lebih parah diantara teman-teman sekitarku. Sangat berutunglah aku yang saat ini berada di kalangan orang-orang baik.

Aku menjadi berfikir tentangku dahulu dan teman-teman yang belum sepenuhnya menyadari perlunya ibadah. @sadewaizat sempat mengatakan kepada salah seorang teman ketika mengobrol “ayo ibadah, gak usah sok atheis. Sudah bukan zamannya lagi sok jahat dan tidak ibadah itu keren”.

Perkataanya sungguh sangat simpel tapi dalam. Aku dulu berfikir tidak begitu peduli dengan ibadah karena faktor teman dan agar terlihat keren. Maklum, anak muda tidak sedikit yang suka melakukan perlawanan. Tapi menurutku itu adalah hal konyol. Melawan Tuhan? What’s that?

Melawan Tuhan demi dianggap gaul dan tidak kuper!

Stereotiping masyarakat muda tentang anak muda yang alim itu kuper adalah salah. Dan saya menyesali hal itu semua. Memilih pergaulan dengan teman daripada bergaul dengan Tuhan. Meskipun ada ayat sangqt terkenal yang menyabutkan antara hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia itu harus ballance, tapi masih banyak yang belum sadar kalau hubungan mereka lebih ke manusia daripada Tuhannya. Parahnya lagi, ayat itu dijadikan tameng untuk peduli sesama meskipun pada dasarnya itu tidak ada kebaikan di dalamnya.

Ramadan ini aku berharap para pemuda yang masih melawan Tuhan dengan berbagai cara agar supaya bisa sadar. Setidaknya lebih memahami apa yang sudah mereka ketahui.

Bulan puasa emang bulan yang penuh dengan berkah. Kali ini aku udah males banget mau posting isi ceramah taraweh lagi karena sering ketiduran sewaktu taraweh di masjid kampus. Lebih baik kalian ikut taraweh sendirI daripada liat dari postinganku.

Aku hanyabtersaar dengan beberapa hal yang terjadi di bulan Ramadan tahun ini, yaitu karena iklan komersil di tv swasta. Iklan yang selalu menunjukan propaganda dan pencitraan emang tidak salah, tapi tidak baik jika stereotiping tentang iklan itu buruk. Iklan di bulan Ramadan selalu penuh dengan kualitas, seperti iklan yang menunjukan ketulusan dan cinta kasih. Dan…ketika ada iklan yang menunjukan hubungan anak dengan orang tua selalu membuatku merasa berdosa. Iklan seorang anak yang sudah sukses dan memiliki keluarga sendiri selalu ditunjukan lupa akan orangtuanya. Hal demikian benar adanya, tidak sedikit anak yang melupakan orangtuanya ketika bertumbuh dewasa. Hal itu hampir terjadi padaku.

Sewaktu SMP aku sudah disekolahkan di sekolah Islam yang menharuskan siswanya hidup di asrama jauh dari orangtua. Beranjak SMA dirasa hidup sudah bisa mandiri dan memilih untuk kos, begitupun ketika kuliah. Setelah lulus kulian otomatis akan mencari kerja dan membina rumah tangga dengan keluarga baru. Terus…dan terus sampai orangtuanya sendiri akan terlupakan.

Suatu ketika ayah tanpa sengaja berceletuk “Jika besok aku tua, titipkan saja di panti jompo”. Hal itu langsung memukul perasaan secara keras. Kemudian tanpa sengaja aku melihat iklan komerail thailand yang menceritakan ketulusan cinta ayah kepada anaknya yang sudah menyakiti hatinya, ditambah dengan movie Weding Dress yang menceritakan cinta kasih seorang ibu kepada puteri kesayangannya. Semua itu membuatku mengeluarkan air mata. Aku tidak pernah nangis melihat film selain film itu. Itu karena aku merasa sangat berdosa dan tidak pernah berbakti pada orangtua.

Sampai saat ini aku masih mikir hal apa yang udah aku lakukan untuk membahagiakan mereka? Kapan mereka tersenyum bangga melihat anaknya (aku)?

Jawabannya adalah….orang tua selalu bangga dan bahagia melihat anaknya…

Fine, mungkinkah itu sudah cukup. Apakah kalian merasakan apa yang orangtua selalu rasakan terhadap anaknya? Aku kira belum! Atau mungkin belum sepenuhnya!

Cinta orangtua sepanjang masa, tidak seperti cinta anak kepada orangtuanya.  Mungkin saja ada yang mencitai orangtua sampai peyor, tapi tidak sedikit anak yang meninggalkan mereka ketika punya keluarga baru.

Orangtua selalu memberikan apapun dan mengusahakan apa yang diminta si anak meskipun itu beresiko untuk dirinya, tapi belum tentu anak akan berfikir demikian. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi jika melihat sisi baik orangtua kita masing-masing, karena tidak akan ada habisnya. Semoga semua anak akan tersadar dengan perjuangan orangtua kita melihat anaknya tumbuh sehat dan berkembang.

Jangan pernah berfikir orangtua si A atau si B itu lebih keren dari orangtua mu. Orangtua kita semua keren karena membolehkan kita tumbuh menjadi manusia yang pintar, sehat, dan berkembang.

Semoga kita, apalagi aku bisa membuat orangtua ku bangga dan bahagia karena usahaku. Bukan karena kelakuaku yang bisanya begini begitu saja…

Selamat berpuasa….

Ceramah Ketiga

Assalamualaikum, dari penceramah ceramah ketiga dari bapak Din Samsudin ketika ingin mengawali ceramah seketika itu pula aku langsung tertidur. Hak itu terjadi karena waktu berbuka aku dan Adit, Fanani, dan Itok melakukan buka estafet, seperti orang kalap. Fanani pertama kalinya berbuka di masjid kampus, kemudian melanjutkan dengan kami bertiga makan batagor, dan diakhiri dengan bakso granade yang memajang foto Tika Putri

Sungguh tidak baik dicontoh karena akhirnya kami tidak mampu sholat taraweh dengan maksimal. Tidak pernah salah sabda nabi bahwa makanlah sebelum lapan dam berhentilah sebelum kenyang, karena itu memang untuk kebaikan.

Ceramah Kedua

Malam ini adalah giliran Pak Amin Rais -mantan ketua MPR semasa pemerintahan orde baru- yang mengisi ceramah sholat taraweh di masjid kampus UGM. Beliau menceritakan tentang apa itu perbedaan dan bagaimana kita harus menghadapi dengan bijak perbedaan itu. Meskipun beliau adalah tokoh penting dalam ormas Muhammadiyah, tapi beliau tetap bisa menjaga silaturahmi dengan ormas lain tanpa menjelek-jelekkan mereka.

Dalam khutbahnya, beliau menerangkan isi ayat dalam Quran yang menuatakan bahwa jangan sampai ada seorang golongan laki-laki diantara kalian menrendahkan atau menghina golongan laki-laki lain di luar golongan kalian, atau sekelompok golongan wanita diantara kalian merendahkan sebagian golongan wanita di luar golongan kalian karena semua itu belum tentu benar adanya. Orang yang mungkin engkau rendahkan justru derajatnya lebih tinggi di mata Allah daripada kalian.

Dengan demikian, isi ceramah taraweh malam ini mengenai toleransi dalam hidup bersosial masyarakat. Jangan sampai ada fitnah ataupun merendahkan satu dengan yang lain. Begitulah isi ceramah selama 20 menit dari mantan ketua MPR RI.

Ceramah Pertama

Malam tadi saya mengawali Ramadhan dengan sholat taraweh di masjid kampus UGM. Saya melihat jadwal penceramah, bapak rektor -Prof. Pratikno- yang menjadi penceramah awal di bulan Ramadhan kali ini, tetapi beliau mendadak tidak bisa karena ada salah satu mahasiswanya yang sedang KKN di Sumbawa meninggal dunia karena kecelakaan. Oleh karena itu, penceramah harus digantikan dengan yang lain, yang menggantikannya adalah ustadz Wijayanto.

Saya tidak tahu dengan penceramah kali ini, tetapi saya sungguh shock melihat cara beliau memberikan dakwahnya kepada para jamaat. Ternyata pembawaan beliau sangatlah lucu, dan tak ada seorangpun tertidur ketika beliau mendengarkan berceramah. Sampai-sampai waktu yang berlalu tidak terasa karena penyampaiannya sangat humoris dan mengena.

Beberapa point yang saya tangkap dari hasil ceramah beliau perihal tentang hilal, keaneragaman, dan kurang keharmonisan di Indonesia. Beliau mengatakan dengan gaya guyonnya bahwa di Indonesia tidak akan pernah terjadi kekompakan dengan elemen tersebut antara pengikut NU dan Muhammadiyah karena dua hal; pemerintah yang lemah juga tidak tegas dan kedua ormas tersebut selalu berbeda pendapat tentang penentuan hilal. Perbedaan tersebut diibaratkan oleh beliau seperti hitungan (2+3×5) yang memiliki dua jawaban, yaitu 25 dan 17. Semua jawaban itu benar tergantung dari sudut pandang mana. Begitulah kedua ormas tersebut.

Selain itu, beliau juga mengatakan ibadah puasa dan sholat tahujud adalah 2 ibadah yang tidak memiliki tipu daya dengan teknologi apapun. Hal tersebut digambarkan dengan ibadah sholat yang bisa dipamerkan melalui rekaman video, bacaan yang panjang ketika menjadi imam, dan lain sebagainya. Begitu juga zakat, haji, dan lainnya. Berbeda dengan tahajud dan puasa yang tidak bisa dipamerkan karena tahujud adalah sholat di malam hari dan tidak ada yang bakal mau merekam video maupun pamer bacaan kepada makmum, sedangkan puasa tidak bisa dipamerkan karena ibadah ini tidak terlihat secara kasat mata.

Jadi, apalah yang disampaikan ust. Wijayanto supaya masyarakat lebih bijak menghadapi kebenaran dalam hilal dan keikhlasan beribadah.

No Marx No Smith, Yes I Am!

Masih seputar dengan Maslow, yaitu mengenai teori kebutuhan diri manusia. Jika yang sebelumnya kebutuhan manusia itu adalah ibadah, kali ini kebutuhan manusia dalam berfikir. Karena manusia ada karena manusia itu berfikir, katanya Pak Descrates.

Namun, yang dijadikan sebuah persoalan kali ini adalah pikiran yang dipikirkan. Belum lama ini, bahkan hampir setiap hari dalam sebuah perkumpulan para anak muda yang masih menggebu-gebu dengan teorinya, membahas mengenai Kapitalisme dan Sosialisme. Apa itu kapitalisme dan sosialisme? Lebih baik baca bukunya saja tentang keduanya.

Jadi, kalau dalam fenomena yang saya lihat di lingkungan mahasiswa, mereka selalu getol jika membahas dua konsep pikiran itu. Saya menyebut keduanya sebagai konsep pikiran karena kedua kata itu muncul dari hasil pemikiran orang, Smith dengan Kapitalismenya dan Marx dengan Sosialismenya.

Kedua hal itu sudah bertentangan namun sejalan sepemikiran. Dalam kasus ini para mahasiswa dididik dengan konsep kapital, tapi berusaha membecinya dengan mencoba menyuarakan benih-benih sosialisme. Kapitalisme sendiri merupakan sebuah teori ekonomi yang bermakna sebagai sebuah persaingan bebas, dan persaingan tersebut sudah diterapkan di setiap para mahasiswa menjalani ujian semester, bersaing untuk berprestasi. Sosialisme adalah bentuk kesetaraan dan diatur oleh pemerintah, dengan artian tanpa ada persaingan.

Tidak sedikit mahasiswa gencar memikirkan pemikiran Smith dan Marx. Tidak banyak mereka yang sadar kalau mereka semua yang mempermasalahkan dua konsep pemikiran itu sudah  ‘digarapi’ oleh pihak tidak bertanggungjawab. Kenapa bisa demikian? Persaingan dan kesetaraan adalah kuncinya. Semua ingin setara antar sesama manusia, tapi untuk menyetarakan diri dengan yang lain orang harus bersaing terlebih dahulu. Dan itu akan terus berlanjut oleh generasi ke generasi dan saling bergantian.

Semua itupun hanya sebatas bentuk dari kebutuhan berfikirku sebagai manusia. Dan, anda pun pasti punya pandangan yang berbeda juga. Namun, bahayanya jika kita terlalu memperdebatkan masalah seperti ini tanpa melihat keadaan dalam diri kita yang masih banyak kesalahan yang harus dibenahi. Akan lebih bijak jika sebaiknya manusia itu memikirkan pemikirannya sendiri untuk pengembangan diri yang baik untuk pribadi maupun orang lain, daripada sibuk memikirkan pemikiran Smith maupun Marx.

Ibadah Yang Dibutuhkan!

Manusia hidup dengan berbagai kebutuhan dan keinginan yang tiada batasnya. Ketika seorang itu sudah tidak membutuhkan apa-apa dan menginginkan sesuau, maka dia hanya hidup seperti seekor zombie yang ada di film-film box office. Seperti itulah kehidupan nyata.

Kali ini, kebutuhan dan keinginan itu jika dikaitkan dengan agama bagaimana? Apakah cukup relevan? Atau justru bersebrangan?

Menurut Maslow, manusia akan membutuhkan yang namanya kepercayaan di dalam hidupnya. Dengan kepercayaan itu mereka bisa hidup dan bertahan menghadapi semua gejolak yang ada. Namun, apakah itu semua benar?

Jika saya melihat dari beberapa fenomena di sekeliling, hanya akan terlihat jika orang berstatuskan agama, dan belum tentu menjadi keyakinannya. Hal ini saya sebutkan karena banyak orang yang beragama tapi tidak menjalankan sesuai dengan apa yang diajarkannya. Padahal, apabila manusia memiliki agama, dia harus yakin dengan agama itu dan menjalankan apa yang diperintahkan oleh agama, meskipun tidak semua perintah itu belum tentu disukainya. Namun, apabila perintah itu tidak dijalankannya, sama saja kalau tidak meyakini agamanya. Kenapa dikatakan demikian?

Setiap agama pasti memiliki aturan dan tatanan dalam menjalani hidup. Ketika semua perintah dan aturan itu dijalankan, maka akan mendapat jaminan istimewa, yang disebut Surga, sedangkan apabila perintah itu tidak dijalankan, apalagi ditambah dengan mempertentangkannya maka akan diberikan ganjaran yang setimpal, yang biasa dikenal sebagai Neraka.

Nah, hampir semua agama memiliki aturan yang berdampak sebab dan akibat. Semua penganut agama pasti tahu akan hal itu, tapi tidak semua diantara mereka menaatinya. Jika demikian, apa itu kepercayaan dan kebutuhan? Apakah teori Maslow masih berlaku disini?

Mungkin saja sebagian mereka hanya percaya dan belum sepenuhnya butuh dengan agama. Atau bisa jadi malah , mereka sama sekali tidak percaya dan butuh. Memang, butuh dan percaya itu beda. Percaya bisa diciptakan oleh orang dinluar diri kita, sedangkan kebutuhan hanya kita yang mengetahuinya.

….skip….

Ibadah bukanlah mengenai kewajiban dan tanggung jawab lagi, melainkan adalah kebutuhan setiap individu. Seperti apapun agamamu jika tidak merasa membutuhkan ibadah kamu tidak akan melakukannya, beda halnya dengan ibadah dijadikan sebatas tanggungjawab yang semua orang bisa mengingkarinya sesuaI dengan keinginannya.

Jikalau kalian ingin menerapkan pendidikan agama terhadap seseorang, pastikan dengan kebutuhan mereka supaya tidak mudah mengingkari segala perintah dan larangan agamanya.

Lakumdinukumwaliyadin…